Selasa, 06 September 2016

Rabu 7 September 2004 - Intelijen Tetap Ingat

Setiap tahun pada tanggal 7 September, aktivis HAM, kalangan masyarakat madani, keluarga dan sahabat Munir Said Thalib memperingati wafatnya Munir karena diracun. Beberapa narasi kampanye yang selalu dikumandangkan terkait kasus Munir adalah "Melawan Lupa" "Masih Ingat" "Merawat Ingatan" "Menolak Lupa" dan lain sebagainya yang intinya bahwa peristiwa tragis kematian Munir menjadi sebuah "peringatan" yang dianggap penting untuk selalu diingat. Tahun ini seperti biasa di tahun-tahun sebelumnya sejak tahun 2005, jaringan Blog I-I juga selalu ikut serta dalam "peringatan" kematian Munir sebagai pengingat untuk diri sendiri maupun komunitas intelijen secara umum. Blog I-I pernah menyampaikan sejumlah petunjuk yang sangat samar tentang bersihnya institusi intelijen (BIN) dari kasus Munir pada periode 2005-2007 ketika kasus tersebut sedang hangat-hangatnya. Mengapa BIN dapat dikatakan bersih?



Salah satu hal yang dilupakan oleh banyak pihak adalah bahwa organisasi intelijen sangatlah kompleks dalam operasionalisasinya. Mayoritas anggota intelijen saling tidak mengetahui pekerjaan anggota intelijen yang lain atau yang sering dikenal dengan istilah kompartementasi. Masih bagus apabila ketidaktahuan tersebut adalah sesama anggota intelijen organik dan bukan agen luar institusi. Dalam prakteknya sangatlah wajar apabila terjadi penggunaan agen luar institusi (outsourcing) contohnya apa yang dialami oleh Pollycarpus yang jelas-jelas bukan anggota BIN sebagaimana secara tegas dinyatakan oleh Kepala BIN Marciano Norman.


Kekeliruan terbesar mereka yang mencari keadilan dalam kasus Munir adalah membidik BIN sebagai institusi, seolah-olah pembunuhan terhadap Munir adalah operasi intelijen dalam hal ini BIN. Pendekatan tersebut sangat keliru dan menyebabkan jaringan intelijen yang bersih menjadi kurang memihak kepada para aktivis dan pihak-pihak yang ingin mengungkapkan kebenaran kasus Munir. Bahkan Blog I-I pun mendapatkan permintaan untuk melindungi kredibilitas dan  nama baik BIN sehingga artikel-artikel Blog I-I pada tahun 2005-2007 menjadi berat sebelah kepada institusi BIN. Namun demikian, jaringan Blog I-I tidak akan pernah melupakan Munir yang sesungguhnya adalah juga sahabat Blog I-I dalam mendorong terjadinya reformasi intelijen dengan mengedepankan profesionalisme. Seandainya sejak awal para aktivis sadar dengan segera memisahkan institusi BIN dari individu yang berlindung dibalik BIN, mungkin ceritanya akan lain. Namun saat ini sudah terlambat, dan akan teramat sulit untuk membuka kembali kasus Munir melihat kepada trend perkembangan dan bukti-bukti baru semakin tenggelam dalam jalannya waktu. 

Kasus pembunuhan dengan racun amatlah sulit untuk diungkapkan tanpa adanya bukti keras yang terbukti berada ditangan tersangka, terlebih seiring dengan waktu yang berlalu. Perhatikan bagaimana berjalannya sidang dalam kasus terkini seperti kasus Mirna-Jessica-Racun Kopi yang tampak berjalan panjang dan alot, karena Hakim memerlukan bukti-bukti yang sangat meyakinkan guna mencegah terjadinya pengambilan keputusan yang keliru dalam menegakkan keadilan.

Komunitas Intelijen Indonesia tetap ingat sahabat Munir, dan bukan karakter Intelijen Sipil seperti BIN untuk menempuh jalan pembunuhan dalam penyelesaian masalah. Berbagai kisah sukses BAKIN di masa saya aktif bahkan lebih banyak diwarnai persahabatan dan jaringan informasi untuk kepentingan nasional dan rakyat Indonesia. Dalam operasi intelijen di bekas propinsi Timor Timur, intelijen sipil dan militer berwatak sipil tidak pernah bawa senjata karena yang diperlukan adalah pemahaman atas jerit tangis rakyat Timor Timur, demikian juga dengan Aceh dan Papua, bahkan kepada kalangan teroris. Namun operasi model tersebut dianggap terlalu lama dan membuang waktu, sementara prestasi tidak akan pernah kelihatan secara nyata. 

Bagi komunitas intelijen Blog I-I, kematian Munir yang merupakan sahabat Blog I-I melalui salah satu jaringan reformasi intelijen merupakan peristiwa yang menjadi sangat kontra produktif dan menjadi pil pahit jaringan dimana seluruh informasi dan akses yang pernah dibahas dengan almarhum Munir untuk mengungkapkan kejahatan kemanusiaan menjadi musnah. Hal yang lebih menyedihkan lagi adalah bahwa kalangan aktivis dan masyarakat secara umum memiliki pandangan negatif atau sikap antipati kepada intelijen khususnya BIN.

Blog I-I hanya ingin berbagi pandangan bahwa ketika sahabat-sahabat aktivis  mengkampanyekan untuk terus mengenang Munir dari tahun ke tahun, komunitas intelijen yang murni dan profesional juga mengenang dan mendo'akan almarhum. Pada akhirnya kita semua adalah anak bangsa Indonesia yang berjuang untuk Indonesia yang lebih baik. Mohon kiranya kepada seluruh jaringan aktivis pembela HAM, civil society, serta pada tokoh yang berkepentingan dapat memahami kondisi obyektif para telik sandi dalam kesunyian pekerjaan mengumpulkan informasi dan menganalisa dinamika ancaman terhadap Indonesia. Mayoritas intelijen Indonesia bahkan tidak mengerti duduk perkara atau persisnya apa yang terjadi dalam kasus Munir, namun tetap menanggung "tuduhan" secara umum intelijen berada dibalik kematian Munir. Semoga peringatan kematian Munir tidak menjadi proses kristalisasi kebencian kepada Intelijen Indonesia.

Intelijen Tetap Ingat
Senopati Wirang







Read More »
03.07 | 0 komentar

Sabtu, 03 September 2016

Surat Terbuka Kepada KomJen Budi Gunawan Calon Kepala BIN

Kepada Yth.
Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan
di Jakarta

Dengan hormat,

Bersama ini kami atas nama komunitas Blog Intelijen Indonesia bermaksud menyampaikan masukan dalam bentuk pointers yang semoga bermanfaat dalam menyukseskan proses uji kelayakan di DPR-RI dan dalam memimpin BIN ke depan. Perlu digarisbawahi sebelumnya bahwa komunitas Intelijen Indonesia tidak bersikap partisan dalam berbagai kegaduhan politik nasional maupun prasangka-prasangka yang tidak memiliki fakta sebagaimana berkembang dalam dinamika pergantian pimpinan BIN belakangan ini. Penyampaian poin-poin berikut ini adalah murni demi kemajuan BIN dibawah kepemimpinan siapapun yang mendapatkan kepercayaan dari Presiden RI selaku single client seluruh komunitas intelijen di Indonesia sesuai UU Intelijen Negara.


Tuduhan-tuduhan yang dikembangkan sejumlah kalangan terhadap figur Komjen Budi Gunawan yang saat ini menjabat Wakapolri sudah tercatat baik dalam catatan Blog Intelijen Indonesia. Catatan tersebut antara lain misalnya tentang kapabilitas di bidang intelijen, kasus rekening "gendut", pelemahan KPK, bagi-bagi kursi, faktor Megawati dan PDI-P, dan lain sebagainya. Sementara dukungan-dukungan juga mengalir baik dari penilaian integritas dan kepemimpinan, pengalaman, faktor kepemimpinan sipil, dan lain-lain. Komunitas Intelijen Indonesia tidak akan mencampuri masalah-masalah tersebut dan lebih fokus kepada hal-hal penting yang perlu ditempuh dalam membangun BIN menjadi lembaga intelijen yang profesional dan disegani.

Semoga masukan ini bermanfaat. Tanggapan atau pertanyaan terhadap surat ini mohon untuk dapat disampaikan melalui email senowirang@gmail.com.

Salam Intelijen
Senopati Wirang & Dharma Bhakti
 



POINTERS

  1. BIN telah memiliki struktur organisasi yang baik dengan tujuan-tujuan yang jelas pada masing-masing unitnya. Meskipun demikian, BIN pernah mengembangkan model satuan tugas (satgas) yang membuat anggaran operasi membengkak demi penyerapan anggaran, hal ini sebaiknya jangan diulangi apabila tidak ada dasar dan analisa keadaan yang cukup meyakinkan tentang pentingnya sebuah satuan tugas. Apabila masih ditemukan satuan tugas yang tidak menunjukkan kinerja yang jelas, maka sebaiknya segera dibubarkan dan anggarannya dapat digunakan untuk merevitalisasi struktur organisasi yang sudah ada.
  2. Kebijakan Rekrutmen 1000 Intel yang telah berjalan adalah kebijakan blunder yang secara strategis akan melemahkan BIN. Dalam sejarah dunia intelijen baik era Telik Sandi Kerajaan Nusantara maupun Intelijen Modern di seluruh dunia, sudah mencari ciri organisasi bahwa Unit atau Organisasi Intelijen harus ramping dengan tingkat keahlian individu yang sangat tinggi. Apabila target dan analisa organisasi memang membutuhkan jumlah personil yang lebih banyak dari saat sekarang ini, maka proses terbaik adalah secara bertahap sesuai dengan strategi rekrutmen pegawai dalam kerangkan reformasi aparatur negara. Artinya jangan tergesa-gesa memperbanyak jumlah personil BIN sementara fasilitas pendidikan dan tenaga pendidiknya masih sangat minim. Guna mencegah kerusakan yang lebih jauh, ada baiknya kebijakan ini dihentikan atau dievaluasi, minimal prosesnya dilakukan bertahap 10 tahun berdasarkan pada uji kompetensi dan kebutuhan mendesak dan asimilasi/integrasi anggota rekrutmen model ini perlu melalui pendidikan khusus yang berkualitas.
  3. Salah satu kelemahan BIN terbesar adalah pada sumber daya manusia yang kurang memenuhi persyaratan dalam memenuhi kebutuhan insan intelijen yang handal baik di dalam maupun di luar negeri, baik operasional maupun analisa. Oleh karena itu, salah satu fokus paling penting bagi BIN adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia BIN melalui pendidikan dan pelatihan. Setidaknya model pendidikan BIN yang dapat dipertimbangkan dan secara strategis menjamin peningkatan kualitas ada tiga, yakni: (1) pendidikan teknis operasional dan analisa, (2) pendidikan manajerial khusus organisasi intelijen, dan (3) pendidikan formal keilmuan baik pada level S2 maupun S3 khususnya bagi analis BIN yang hingga saat ini masih sangat lemah. 
  4. Terkait dengan pendidikan teknis operasional dan analisa, BIN harus mampu menjadi rujukan standar nasional tentang berbagai hal terkait pengetahuan operasi intelijen dan analisa intelijen, bahkan sertifikat lulusan pendidikan BIN dapat menjadi jaminan bahwa alumni pendidikan teknis BIN tersebut memiliki kualifikasi tinggi. Hal ini akan sangat bermanfaat sekiranya ada lembaga lain yang ingin mendidik pegawainya dengan pengetahuan teknis intelijen, misalnya jajaran Dirjen Pajak, Kementerian Luar Negeri, atau bahkan Militer dan Polisi. Pendidikan yang dikembangkan BIN hingga saat ini dapat dikatakan sudah kadaluarsa dengan Tim Pengajar yang semakin menurun kualitasnya dari waktu ke waktu seiring dengan usia pensiun. Selain itu, sangat jarang yang berkenan mendedikasikan karirnya untuk peningkatan pendidikan teknis BIN.
  5. Masih terkait dengan pendidikan. Keberadaan STIN sekilas tampak cukup menjanjikan, namun perhatian khusus perlu diberikan untuk menjaga kualitas STIN baik dari sisi struktur organisasi, pengajar, maupun kualitas mahasiswanya (rekrutmen dan pembinaan). Untuk sungguh-sungguh menjadikan STIN sebagai salah satu sumber personil yang handal diperlukan dukungan penuh untuk menjadikan STIN sebagai lembaga pendidikan akademik intelijen yang kuat. Selain itu, sejalan dengan prinsip ramping, profesional, efisien, dan efektif, rekrutmen mahasiswa STIN sebaiknya dikurangi sementara jumlah personil BIN yang diarahkan untuk berkarir dalam peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan ditingkatkan  (rasio pengajar tetap berkualifikasi dan jumlah mahasiswa sudah tidak masuk akal). Saat ini, mereka yang mengabdi dalam peningkatan pendidikan dan kualitas sumber daya manusia BIN sangat sedikit bahkan mayoritas tidak memenuhi standar baik dari sisi guru Intel maupun sertifikasi dosen. Hanya sedikit yang dapat dinilai berkualitas dan mampu melaksanakan tugas dengan baik di bidang pendidikan. Hal ini dapat ditanyakan kepada Ketua STIN maupun Kapusdiklat BIN.
  6. Fokus BIN adalah kepada aspek strategis ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan terhadap keamanan nasional. Artinya BIN berada pada tataran strategis dimana hasil kerja BIN adalah mampu mencegah AGHT yang berdampak nasional. Kasus-kasus terorisme, radikalisme, separatisme, dan konflik komunal masih dominan dan sangat relevan menjadi perhatian BIN. Namun demikian, tanpa bermaksud masuk ke dalam wilayah politik, monitoring dan analisa BIN terhadap dinamika sosial politik masyarakat di seluruh Indonesia juga sangat penting, untuk ini diperlukan kemampuan analisa yang tajam dengan dasar keilmuan yang mumpuni di bidang politik, sosiologi, antropologi, kriminologi, dll yang dilengkapi dengan kemampuan analisa intelijen yang mampu menyusun fakta-fakta dalam memperkirakan keadaan yang akan berkembang. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi dalam spesialisasi analis BIN guna menghindari generalisasi analis campur sari yang menganggap diri serba bisa.
  7. Fokus yang juga sama pentingnya sebagaimana dipesankan Presiden Joko Widodo adalah pengamanan pembangunan ekonomi nasional Indonesia. Artinya BIN sangat membutuhkan analis ekonomi yang handal yang dilengkapi pengetahuan teknis analisa intelijen yang sedikit berbeda dengan pengamat ekonomi. Mewujudkan cita-cita Indonesia yang mandiri secara ekonomi, berkeadilan dan sejahtera bukanlah hal yang sederhana. Analis ekonomi BIN tidak sama dengan mereka yang terjun langsung dan ahli dalam menganalisa dinamika ekonomi, melainkan secara khusus melihat sisi ancaman dan resiko yang kemudian dapat menjadi masukan bagi para pengambil kebijakan ekonomi nasional. Artinya analis ekonomi BIN harus menspesialisasikan dirinya membangun insting analisanya dalam mencermati berbagai dinamika ekonomi nasional, regional dan global dari sisi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan. Sehingga tidak akan tumpang tindih dengan apa yang telah dikerjakan oleh para ekonom Kementerian Keuangan, Bappenas, kementerian Perdagangan, BKPM, dll. Apabila produk analisa bidang ekonomi BIN abal-abal saja, maka hanya akan menjadi sia-sia saja.
  8. Untuk mendukung kegiatan analisa bidang ipoleksosbudhankam di Kantor Pusat, tentunya diperlukan bahan-bahan keterangan yang cepat dan aktual. Oleh karena itu komunikasi antara analis dan pengumpul bahan keterangan harus cepat pula, sehingga hal pertama yang perlu dievaluasi adalah sistem komunikasi arus informasinya, apakah berjalan lancar atau tidak. BIN harus membedakan antara kegiatan rutin dan operasi intelijen. Menurut pengalaman saya, di era Presiden Suharto, BAKIN lebih banyak sungguh-sungguh menyelenggarakan operasi intelijen dibandingkan era reformasi. Walaupun sayangnya operasi BAKIN saat itu lebih untuk kepentingan penguasa, namun sangat efektif dan tepat sasaran. BAKIN atau BIN era reformasi tampak jelas kehilangan makna operasi intelijen yang dibatasi oleh waktu dan target tertentu serta berdasarkan perintah Pimpinan BIN atau bahkan atas arahan Presiden. Apa yang terjadi adalah pemborosan anggaran dengan menyelenggarakan operasi yang sesungguhnya hanya kegiatan rutin mengumpulkan bahan keterangan. Alih-alih membentuk Satgas ternyata hanya untuk menyerap anggaran yang sebenarnya operasi tersebut adalah kegiatan rutin. Akibatnya terjadi duplikasi laporan yang tidak perlu dan pembengkakan anggaran.
  9. Unit Konter Intelijen perlu direvitalisasi secara khusus dengan karakter seperti model Unit Pelaksana Khusus namun tetap dalam bentuk Direktorat, sehingga bukan dalam bentuk Satgas tetapi dalam struktur organisasi dan idealnya berada di luar Kantor Pusat. Konter Intelijen sangat penting dalam melindungi kepentingan nasional Indonesia dari operasi intelijen asing yang semakin sulit terdeteksi karena Konter Intelijen BIN tenggelam dalam rapat koordinasi clearing house yang mengurusi hal-hal kecil keluar masuknya orang asing yang dimasa lalu hanya ditangani selevel Kepala Seksi saja. Konter Intelijen harus memiliki kemampuan teknologi tinggi intersep, anti intersep, bekerjasama erat dengan penegak hukum Polisi dan Imigrasi serta sistem monitoring yang canggih, dimana pengawasan terhadap orang asing hanya salah satu metode saja. Tetapi kegiatan rutinnya adalah sungguh-sungguh deteksi dini terhadap operasi intelijen asing atau siapapun elemen asing yang membahayakan keamanan nasional. Kemudian operasi intelijennya adalah pengungkapan ada tidaknya operasi intelijen asing, orang asing atau untuk kepentingan asing yang dilakukan di tanah tercinta Indonesia. Pentingnya koordinasi dengan Polisi dan Imigrasi adalah untuk eksekusi hukum kasus-kasus spionase atau kegiatan merongrong kedaulatan Indonesia.
  10. Unit Konter Terorisme juga memerlukan perhatian khusus dan Satgas Anti Teror BIN sebaiknya dilebur dimasukkan ke dalam Unit Konter Terorisme seluruhnya, sehingga tidak terjadi persaingan yang kurang sehat serta menekan pemborosan anggaran. Tidak menjadi masalah apabila Direktorat Konter Terorisme BIN memiliki jumlah anggota yang lebih besar daripada Direktorat lain karena hal ini juga didukung oleh anggaran yang mencukupi. Selain itu, diperlukan sejumlah safe house sebagai titik komunikasi dan dukungan logistik yang idealnya tidak dilakukan di Kantor Pusat melainkan mendekat ke lokasi sasaran dimana sumber ancaman atau target berada. Tidak semua kegiatan konter terorisme adalah operasi, sebagian besar kegiatan adalah rutin monitoring, analisa dan perkiraan keadaan, sehingga tidak terjadi pemborosan anggaran dengan alasan operasi konter terorisme.
  11. Peningkatan teknologi dan komunikasi intelijen merupakan salah satu faktor penentu sukses tidaknya sebuah organisasi intelijen modern. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan terhadap teknologi peralatan intelijen menjadi wajib hukumnya. Khusus untuk masalah ini kunci suksesnya terletak pada ketepatan pilihan teknologi dan penggunaannya. Buat apa membeli peralatan canggih yang akhirnya disimpan di gudang? Buat apa pula membeli sistem teknologi intelijen yang tidak mampu mencapai sasaran target operasi. Mengantisipasi semakin kompleksnya persoalan saat ini dan ke depan, BIN harus memulai pembangunan sistem arsip Big Data yang dibangun oleh anak bangsa sendiri dengan sistem pengamanan yang canggih. Hal ini juga dapat dikomunikasikan dengan Lemsaneg. Berbeda dengan era arsip masa lalu dengan bergudang-gudang kertas laporan akhirnya dimusnahkan, dengan digitalisasi arsip intelijen, maka seluruh data-data intelijen dapat tersimpan dengan baik dan dapat menjadi referensi di kemudian hari untuk analisa. Sistem Big Data bahkan jauh lebih baik dari arsip digital yang dilakukan secara manual, artinya seluruh sistem laporan secara otomatis tersimpan dalam soft copy termasuk raw materialnya yang dilengkapi dengan enkripsi atau akses password dan tersimpan baik dengan sistem pengunduhan yang bertingkat siapa saja yang memiliki otoritas mengaksesnya (prinsip need to know). Boleh jadi generasi saya sudah gagap teknologi, namun tidak berarti organisasi ketinggalan zaman dan BIN harus memiliki personil yang handal di bidang teknologi intelijen baik untuk keperluan operasi (intelligence devices), maupun untuk keperluan analisa (intelligence analysis tools, manajemen informasi dan arsip).
  12. Intelijen Dalam Negeri BIN pada prinsipnya adalah monitoring situasi dan keadaan dari Aceh hingga Papua. Hal itu sangat terdukung oleh sistem Binda yang merupakan satelit-satelit yang senantiasa memonitor perkembangan situasi di wilayah masing-masing. Hanya pada situasi khusus tertentu saja perlu dilakukan operasi yang dilakukan oleh Tim Intelijen Dalam Negeri, misalnya dalam betuk cek dan ricek ulang bahan keterangan yang meragukan. Karena wilayah kegiatan Intelijen Dalam Negeri beririsan dengan Konter Terorisme dan Konter Intelijen (Spionase) maka kerjasama erat harus terjadi, dimana informasi awal diharapkan selalu mengalir dari satelit-satelit BIN di seluruh wilayah kedaulatan Indonesia. Ketika terdeteksi adanya ancaman operasi intelijen asing di suatu wilayah, maka yang melakukan operasi adalah Tim Konter Intelijen, sementara Intelijen Daerah sebaiknya menjadi pendukung guna melindungi eksistensi intelijen daerah itu sendiri. Hal sama juga berlaku untuk ancaman terorisme, Binda jangan bergerak sendiri mencoba melakukan operasi intelijen dalam isu terorisme karena dapat membahayakan keberadaan Binda. Setiap informasi ancaman terorisme dari Binda harus masuk juga ke bagian Konter Terorisme untuk tindak lanjut.
  13. Intelijen Luar Negeri BIN adalah mata telinga yang mencermati dinamika dunia internasional yang terkait langsung dengan kepentingan nasional dan keamanan Indonesia. Khusus untuk Intelijen Luar Negeri, hal pertama yang harus dilakukan adalah evaluasi terhadap kemampuan para personilnya dalam melihat, membaca, dan menganalisa lingkungan strategis regional dan global serta isu-isu yang dapat diterjemahkan sebagai AGHT bagi Indonesia. Hal paling sederhana untuk mengetahui kapabilitas personil Intelijen Luar Negeri BIN adalah kemampuan berbahasa asing. Misalnya sebagai contoh: perlu segera dipersyaratkan bahwa personil Intelijen Luar Negeri BIN memiliki nilai TOEFL bahasa Inggris versi paper minimal 550 atau versi IBT 80 yang merata pada aspek reading, listening, speaking, writing. Contoh lain misalnya memiliki sertifikat Diplôme d'études en langue française untuk bahasa Perancis atau alumni sekolah Perancis, Arabic Language Proficiency Test (ALPT) atau alumni Timur Tengah, Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK) untuk Chinese Profiency Test, dan seterusnya yang sangat mudah untuk diterapkan dalam rangka meningkatkan kinerja organisasi. Kemampuan berbahasa asing tentunya belum cukup, sehingga perlu dilengkapi pembekalan-pembekalan pengalaman operasi luar negeri. Khusus untuk luar negeri, seluruh kegiatan intelijen yang berada di luar negeri adalah operasi karena berada di luar hukum nasional Indonesia, sehingga banyak kerawanan yang harus diantisipasi. Sementara itu, kegiatan rutin Intelijen luar negeri tentunya lebih kepada monitoring berita luar negeri dan analisa terhadap berbagai dinamika internasional yang terkait, berdampak, atau mengancam kepentingan nasional Indonesia. Pada waktu-waktu khusus, Intelijen luar negeri harus selalu siap sedia memfasilitasi operasi khusus dari unit khusus BIN atau yang dibentuk khusus secara nasional, contohnya ketika Kopassandha (Kopassus) melakukan operasi pembebasan pesawat Garuda atau Operasi Woyla, peranan personil dan pimpinan Intelijen luar negeri BAKIN cukup besar. Selain itu juga dalam pembebasan Pembebasan sandera awak KM MV Sinar Kudus 2011 di Somalia, peranan perwira militer dan anggota BIN sangat vital dalam menentukan keberhasilan operasi yang melibatkan Satgas gabungan AD, AU, dan AL.
  14. Untuk soal unit Komunikasi dan Informasi, sejak awal terasa ada yang kurang pas dengan unit ini karena sifatnya yang semi terbuka dan koordinasi atau kerjasama dengan lembaga atau kementerian lain. Nomeklatur yang janggal ini perlu disiasati dengan pengarahan untuk fokus kegiatan kepada pemaksimalan propaganda dan konter propaganda agar esensi intelijennya menjadi kuat. Propaganda sering dilihat sebelah mata dan mendapat citra negatif sebagai sesuatu yang dipaksakan untuk mengubah pandangan, sikap lawan atau oposisi. Namun apabila diperhatikan secara seksama, hal itu lebih dipengaruhi oleh teknik, kreatifitas, dan pengalaman pelaku propaganda dimana pada akhirnya tujuannya adalah baik untuk kepentingan nasional Indonesia. Sebagai contoh, propaganda hitam yang diwarnai oleh fitnah dan tuduhan telah dirasakan oleh calon Kepala BIN Komjen Budi Gunawan dengan tuduhan pencucian uang. Bagi orang intel, hal itu sangat sederhana dan mudah terungkap motif dan kelemahannya, sehingga dapat dengan mudah disangkal dengan fakta-fakta. Propaganda juga ada yang abu-abu dimana kebenaran dan kebohongan bercampur, sehingga fakta menjadi samar-samar dan opini menjadi lebih kuat untuk mengarahkan sikap masyakarat atau kelompok ke arah tertentu. Ada juga teknik pengalihan isu yang sering terjadi dalam level nasional dan lokal di Indonesia. Namun kita juga harus ingat bahwa propaganda terbaik adalah dengan kebenaran fakta dimana pihak-pihak yang memusuhi dan tidak senang dengan kemajuan Indonesia tidak dapat merongrong kedaulatan Indonesia. Contoh propaganda berdasarkan fakta bahwa mayoritas masyarakat di Indonesia dari Aceh hingga Papua puas dengan demokrasi dan rela ikhlas untuk membangun Indonesia tentunya memerlukan data valid berupa fakta jumlah warga negara Indonesia yang antusias memberikan hak pilihnya dalam pemilu, atau berdasarkan pada polling kepuasan rakyat Indonesia terhadap demokrasi yang diperkenalkan sejak tahun 1998.
  15. Tentang kerjasama internasional BIN. Hal ini merupakan kebutuhan dimana berdasarkan kepentingan bersama kerjasama yang seimbang dapat terjadi. Namun demikian, dalam pantauan komunitas Blog Intelijen Indonesia, telah terjadi upaya rekrutmen dan pendataan anggota BIN oleh SVR Rusia melalui operasi pemberian pelatihan yang terus-menerus dilakukan setiap tahun, baca Penggalangan Rusia terhadap BIN. Saat ini SVR telah memiliki puluhan foto dan data anggota BIN potensial untuk direkrut atau diakses. Hal yang serupa juga terjadi dengan pelatihan bahasa Inggris oleh ASIS/ASIO Australia, CIA Amerika Serikat, dan MSS/MPS China. Apabila pelatihannya hanya bahasa asing, apakah BIN begitu miskinnya untuk tergantung kepada Intel asing? Lembaga yang memberikan kursus bahasa asing cukup banyak di Jakarta, bahkan untuk mengirimkan anggota BIN ke luar negeri mendalami bahasa asing tidaklah terlalu mahal bagi BIN. Faktor terpenting dalam pelatihan bahasa asing adalah minat, bakat, dan kontrol evaluasi kepada siswa agar terjamin keberhasilannya. Berdasarkan pertimbangan yang matang, kami menyarankan agar BIN segera menghentikan atau mengevaluasi seluruh kerjasama internasional yang sifatnya pelatihan yang tidak perlu. Ibarat jeruk makan jeruk, BIN akan selamanya berada dibawah dominasi atau pengaruh intel asing apabila tidak segera menghentikan model kerjasama pelatihan tersebut. BIN tidak membutuhkan pelatihan intel asing kepada anggota-anggotanya. Apabila memang tetap diperlukan pelatihan dari intel asing maka persiapkan model Training of Trainers (ToT), dimana BIN cukup mengirimkan guru intel dan para pelatih intel untuk belajar dan kemudian mengajarkan apa yang dipelajari dari intel asing kepada anggota BIN, bukan mengirimkan secara bergiliran seluruh anggota BIN kepada Intel asing. Hal ini sama saja dengan menyerahkan leher BIN kepada asing, dimana dikemudian hari akan semakin membuat BIN terperosok dalam kubangan kendali intelijen asing. Sebagai lembaga intelijen yang terhormat, janganlah secara sembrono berpikir bahwa pelatihan itu gratis adanya tanpa maksud tertentu.
  16. Demikian untuk menjadi periksa.  





Read More »
03.01 | 0 komentar

Jumat, 02 September 2016

The return of Blog Intelijen Indonesia (Blog I-I)

Vakum selama kurang lebih empat bulan bagi Blog I-I adalah waktu yang sangat singkat dalam dinamika keamanan nasional Indonesia yang masih memerlukan kehadiran diskusi, perdebatan, dan analisa yang baik demi rakyat Indonesia. Namun waktu empat bulan juga cukup lama apabila dalam periode tersebut terjadi kejutan-kejutan keamanan nasional yang membahayakan. Alhamdulillah, puji Tuhan situasi dan kondisi keamanan nasional Indonesia relatif stabil, aman, dan terkendali.

Artikel ini adalah yang pertama setelah proses panjang kepada berbagai pihak yang berwenang untuk memulihkan kembali eksistensi Blog I-I. Tidak perlu dijelaskan secara detail mengapa terjadi dan siapa-siapa saja yang terlibat, namun hal ini cukup menjadi pembelajaran bagi kita bersama untuk senantiasa mengutamakan kepentingan nasional, persatuan dan kesatuan, membiasakan kedewasaan dalam menerima kritik, tetap profesional dalam bidang masing-masing, serta menjauhi fitnah dan perilaku korup. Namun yang pasti, Blog I-I menghadapi lawan tangguh yang brillian justru dari agen  organik BIN yang tidak pernah diduga sebelumnya, tersembunyi, dan dapat dipastikan tidak akan mengakui pekerjaannya. Blog I-I pun tidak sanggup mengetahui identitas sesungguhnya dari sang agen tersebut. Untuk itulah rasa hormat yang setinggi-tingginya perlu disampaikan oleh segenap komunitas Blog I-I untuk mengakui kehebatan agen-agen BIN yang bekerja dalam kesunyian yang bahkan tidak diketahui oleh jajaran pimpinan BIN.


Kembalinya Blog I-I secara online tidak terlepas dari dukungan para pihak baik di lingkaran Istana maupun Senayan serta permohonan ma'af yang tulus kepada keluarga besar BIN. Jangan berharap untuk dapat membongkar jaringan Blog I-I dan siapa-siapa saja yang mendukung Blog I-I karena pekerjaan intel harus dapat dipastikan tertutup dengan baik. Bila ada pihak-pihak yang penasaran mencari tahu, Blog I-I dapat memastikan tidak akan pernah terungkap, karena inilah esensi atau hakikat dari jaring intelijen. Selain itu, tentunya juga kesepakatan dan komitmen seluruh komunitas Blog I-I untuk tidak mengulangi kekeliruan dan mengutamakan kepentingan nasional Indonesia dalam meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan yang semakin kompleks.

Isu-isu yang berada di wilayah internal organisasi intelijen Indonesia merupakan tanggung-jawab dari pimpinan intelijen dan Blog I-I berkomitmen tidak akan menyentuhnya lagi. Oleh karena itu, kepada seluruh jaringan Blog I-I yang bekerja untuk lembaga intelijen agar memperhatikan hal ini. Apabila anda yang bekerja di dalam lembaga intelijen melihat perilaku-perilaku yang merusak organisasi baik korupsi, kolusi, nepotisme, kesewenang-wenangan, tidak profesional, penyimpangan, konflik sipil-militer, dan berbagai kerusakan lainnya, berjuanglah di dalam organisasi untuk membawa perubahan yang lebih baik.

Meskipun komitmen Blog I-I tersebut demikian kuat, namun Blog I-I sesuai kesepakatan tetap diberikan ruang untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan intelijen yang membahayakan keamanan nasional atau merusak organisasi intelijen, misalnya kritik keras terhadap kebijakan rekrutmen 1000 agen BIN dari PNS, Militer, dan Polisi sebagaimana telah dianalisa Blog I-I. Singkatnya analisa strategis Blog I-I melihat sejumlah persoalan besar yang akan dihadapi oleh BIN apabila tetap ngotot melanjutkan rekrutmen tersebut. Untuk hal ini, mohon kiranya kepada para pimpinan intelijen untuk tidak berkuping tipis dalam membaca analisa-analisa Blog I-I.

Tanpa disadari pengaruh Blog I-I sedemikian besarnya ke dalam hati dan sanubari para intel aktif baik sipil maupun militer. Hal itu tidak terlepas dari misi Blog I-I mendorong peningkatan kualitas dan membangun kebanggaan profesi intelijen, mendekatkan realita dan fantasi intelijen, serta memotivasi disiplin yang tinggi untuk kemajuan Republik Indonesia dengan cipta kondisi rasa aman bagi rakyat Indonesia. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh jaringan Blog I-I yang senantiasa berbagi informasi untuk kemajuan Intelijen Indonesia.

Senopati Wirang sebagaimana dijelaskan dalam tulisan singkat Siapa Senopati Wirang?, Identitas Senopati Wirang, serta Senopati Wirang seorang pengecut pada hakikatnya adalah anda semua yang rajin mengunjungi dan membaca Blog Intelijen Indonesia. Bahwa saya menuliskannya secara online merupakan cerminan atau refleksi dari kegelisahan siapapun insan intelijen yang merasakan adanya suatu cita-cita ideal yang sangat jauh dari kenyataan. Setelah melalui proses introspeksi yang cukup panjang serta mendengarkan wejangan dari para senior sesepuh intelijen, maka sosok Senopati Wirang tersebut perlu saya jelaskan kembali disini.

Nama Senopati Wirang dalam sejarah Indonesia pertama kali dicetuskan oleh Blog I-I bukan berdasarkan pada sejarah Tata Negara Kerajaan di Jawa, melainkan dari gabungan dua kata yakni Senopati diambil dari Jalan Senopati dimana Kantor BAKIN pernah berada, dan Wirang dalam bahasa Jawa berarti malu atau membuat malu, atau menanggung malu. Belakangan sosok Senopati Wirang tersebut juga dibajak oleh sebagian kalangan pendukung Letjen (Purn) Prabowo Subianto dalam beberapa artikel dan media sosial. Posisi Senopati dalam susunan tata pemerintahan kerajaan di Jawa baik era Majapahit hingga Mataram sesungguhnya merupakan posisi selevel dengan Jenderal Bintang satu (Brigadir Jenderal), yakni hanya Kepala Pasukan Tentara Kerajaan atau setingkat Brigade yang mengkomandoi sekitar 3000-5000 pasukan. Seandainya pendukung Sdr. Prabowo mengerti sejarah dan kepangkatan militer tentunya tidak akan membajak nama Senopati Wirang dan melabelkannya kepada Sdr. Prabowo. Meskipun demikian istilah Senopati sejak era Mataram Baru juga digunakan untuk penyebutan Panglima tertinggi Tentara Kerajaan kepada Raja Mataram dengan istilah Sénopati-Ing-Ngalågå, namun tidak berdiri sendiri dalam kata Senopati.

Istilah yang lebih sering atau tepat digunakan dalam khasanah sastra atau sejarah Jawa adalah Satriya, Ksatria, atau Satria yang kemudian sering digabungkan dengan kata Wirang (malu) atau dengan kata Piningit (memingit diri, bersembunyi). Namun kedua istilah tersebut baik Satria Wirang maupun Satria Piningit identik dengan kompetisi, perang, atau pertarungan politik dimana dalam cerita-cerita kuno digambarkan Satria Piningit akan keluar sebagai pemenang, sedangkan Satria Wirang adalah pihak yang kalah.

Singkat kata, ketika Blog I-I mencetuskan nama sandi (code name) Senopati Wirang tidak terkait dengan istilah-istilah dalam sejarah, sastra maupun pertarungan politik nasional. Senopati Wirang adalah penyegar ingatan komunitas intelijen Indonesia baik didikan Pusdikintel TNI, Pusintelstrat Cilendek, Diklat BAKIN, Unit Pelaksana Operasi No..., Kamar...,  Sandi..., Tim..., dan lain-lain tentang mimpi dan idealisme intelijen yang bekerja keras dalam senyap untuk Republik Indonesia untuk rakyat Indonesia. Intelijen baik sipil maupun militer dalam sejarah Indonesia hampir selalu dinomorduakan dalam pilihan operasi, diabaikan dalam karir dan kesejahteraannya, bahkan dihina dicaci maki masyarakat karena ketidaktahuan. Sebagai contoh operasi intelijen dengan sandi Komodo di Timor Timur adalah kunci sukses integrasi Timor Timur disamping operasi militer Seroja. Namun dalam mengelola Timor Timur, pimpinan militer dan politik sangat minimal dalam menggunakan intelijen untuk penggalangan dengan memenangkan hati dan pikiran rakyat Timor Timur yang merupakan saudara. Kemudian juga lengah menghadapi intelijen asing yang bermain. Tim Intelijen yang bermain di Timor Timur baik Mawar maupun Melati lebih bersifat taktis dan Intel Combat, sementara Intel Counterinsurgency boleh dikatakan tidak dilakukan secara efektif dalam mengedepankan proses integrasi yang lebih alamiah dan manusiawi disertai keikhlasan.

Terlalu banyak untuk disebutkan kekeliruan pemerintah dan pemimpin di negeri ini dalam memperlakukan intelijen. Belum lagi soal sipil militer dan persaingan pejabat-pejabat tinggi intelijen dalam mencapai kekuasaan, misalnya contoh paling jelas dalam sejarah adalah persaingan Ali Moertopo dan Benny Moerdani yang berdampak kepada melemahnya BAKIN selama periode 1980-1990an yang menyebabkan BAKIN terpuruk dan berpuncak pada akhir 1998 dengan jatuhnya Presiden Suharto. Analisa ini tampak sederhana, namun sahabat Blog I-I dapat menanyakan langsung kepada para saksi sejarah mantan Intel baik sipil dan militer yang masih hidup tentang bagaimana melorotnya kinerja BAKIN ketika Leonardus Benjamin Moerdani berkuasa.

Untuk mimpi idealisme intelijen Indonesia yang modern, profesional, berkinerja tinggi, serta beretika dalam memperjuangkan kepentingan nasional dan memperhatikan jerit tangis rakyat Indonesialah, sosok Senopati Wirang lahir. Senopati Wirang lahir dengan membawa cacat nama wirang karena merupakan refleksi komunitas intelijen yang berada dalam kegamangan profesi dan kehilangan kepercayaan diri. Berulang kali, Senopati Wirang mengingatkan seluruh komunitas intelijen untuk kembali kepada hakikat profesi intelijen yang bebas politik, profesional, dan selalu antisipatif terhadap perubahan, namun keluhan demi keluhan dan sikap kurang disiplin sampai kepada Blog I-I justru dari dalam komunitas intelijen. Sedih....sungguh sedih, namun janganlah kita menyerah dengan keadaan, mulailah berubah dari diri kita masing-masing. Bila sahabat Blog I-I perhatikan, Blog I-I juga mengalami naik turun dan berevolusi dalam semangat mendorong kemajuan Intelijen Indonesia baik dengan motivasi maupun pil pahit kenyataan.

Blog I-I akan meneruskan nama sandi Senopati Wirang sebagai pengingat pil pahit kepada siapapun yang berpotensi merusak Intelijen Indonesia. Namun hari ini, sehari setelah Presiden Jokowi menyampaikan Surat Permohonan Pertimbangan Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Badan Intelijen Negara tertanggal 1 September 2016, Blog I-I melahirkan nama sandi baru Dharma Bhakti sebagai pengingat bahwa profesi intelijen di Indonesia memegang prinsip kewajiban disiplin dalam pengabdian kepada Republik Indonesia dan rakyat Indonesia.

Akhir kata, peribahasa tiada ada gading yang tak retak sangatlah tepat dalam menggambarkan perjalanan berliku-liku Blog I-I selama belasan tahun ini. Semoga peribahasa sepandai-pandai tupai meloncat akhirnya jatuh juga tidak berlaku bagi Blog I-I.

Salam Intelijen
Dharma Bhakti

Read More »
23.28 | 0 komentar

Minggu, 22 Mei 2016

Selamat Ulang Tahun Intelijen Negara: Sebuah Renungan

Entah mengapa tiba-tiba ulang tahun Badan Intelijen Negara (BIN) menjadi dirayakan setiap tanggal 7 Mei 2016. Konon tanggal tersebut merujuk kepada pelantikan 30 pemuda lulusan Sekolah Intelijen Nakano (Jepang) menjadi anggota Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI) dibawah pimpinan Kolonel Zulkifli Lubis. Konon pula, tanggal 7 Mei tersebut juga bertepatan dengan hari ulang tahun Jenderal TNI (Purn) DR. A.M. Hendropriyono, dimana dimulai era Hendropriyono tersebutlah perayaan ulang tahun BIN setiap tanggal 7 Mei dimulai. Tidak ada yang aneh atau salah dengan perayaan hari lahir intelijen Indonesia tersebut, hanya saja fakta-fakta mengenai jatidiri intelijen harus diketahui secara detail oleh seluruh insan intelijen.

Renungan intelijen negara berikut ini langsung menyentuh jantung dua organisasi intelijen Indonesia yakni BAIS TNI dan BIN dimana keduanya menganggap BRANI dibawah pimpinan Kolonel Zulkifli Lubis sebagai cikal-bakal lembaga intelijen di Indonesia.

Memasuki usia 70 tahun semoga seluruh komunitas Intelijen dapat menerima dan melakukan introspeksi melalui renungan ini.


Ketika saya menuliskan puisi Intelijen Buta dan Tuli hal itu merupakan refleksi keprihatinan yang mendalam terhadap kondisi faktual intelijen Indonesia khususnya BIN dan BAIS TNI yang semakin rusak dari waktu ke waktu. Kerusakan demi kerusakan dunia intelijen disebabkan oleh latar belakang nahkoda pimpinan intelijen di kedua lembaga tersebut yang kurang kompeten dan sangat sedikit ilmu dan pengalamannya dalam membangun lembaga intelijen. Namun karena konstelasi politik dan kalkulasi kekuatan strategis, maka tidak terhindarkan bahwa kerusakan di kedua lembaga telah mencapai level sangat berat dan sulit diperbaiki. 

Secara umum BAIS TNI dikuasai oleh Panglima TNI dengan pucuk pimpinan berada ditangan kepercayaan Panglima guna memastikan Menhan tidak mengendalikan dan mengakses informasi strategis seenaknya saja. Hal ini sepintas wajar, namun dalam konteks strategis menjadi kurang pas karena Kementerian Pertahanan seharusnya menjadi pusat penyusunan strategi pertahanan nasional, sementara Mabes TNI menjadi mitra utamanya dengan fokus kepada level operasionalisasi dan taktis utamanya terkait dengan gelar pasukan di seluruh nusantara, serta berbagai hal terkait personil, logistik, keuangan, alutsista, dan administrasi lainnya. Ketika Panglima merangkap Menhan, tidak ada masalah karena berada di satu tangan yang mengkoordinasikan seluruh level kegiatan baik strategis maupun taktis dan operasional. Namun setelah terjadi pemisahan, maka terjadilah kesulitan dalam sinkronisasi. Situasi tersebut biasa saja dan telah diperkirakan akan terjadi sejak awal reformasi setengah hati yang ditempuh TNI.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh Menhan apabila tidak memperoleh informasi dari BAIS TNI karena kondisi BAIS TNI sudah sangat parah baik pada level pengumpulan informasi maupun analisa. Kemunduran profesionalisme BAIS TNI merupakan dampak dari sistem penempatan anggota dan pejabat BAIS yang seiring waktu diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan intelijen dan pengalaman operasi intelijen yang cukup. BAIS TNI tiba-tiba menjadi tempat parkir perwira menengah Kolonel mantan Athan yang berharap menjadi Jenderal dengan menduduki jabatan Direktur. Mayoritas Athan Indonesia hanya memiliki sedikit kemampuan intelijen karena sistem seleksi dan latar belakang yang beragam. Kemudian melalui pendidikan persiapan Athan, salah satunya pendidikan intelijen positif maka mereka para Athan mengklaim memiliki pengetahuan intelijen, padahal hal itu hanya kulitnya saja. Penyakit parah BAIS TNI tersebut telah ditularkan kepada BIN dengan melempar para Kolonel pengangguran tersebut menjadi pejabat di BIN dan mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Jenderal karena jabatan di BIN.

Patut diakui bahwa ada sebagian kecil anggota dan pejabat BAIS TNI yang memiliki ilmu dan pengalaman intelijen yang mumpuni. Namun karena jumlahnya sangat sedikit, maka peranan mereka menjadi minimal dan mereka mengalami frustasi luar biasa karena tidak berdaya dalam mengaplikasikan ilmu dan pengalaman intelijennya karena mayoritas tidak mengerti intelijen. Mereka yang mumpuni tersebut umumnya adalah sisa-sisa didikan Jenderal Benny Murdani seperti mantan Charlie dll, serta alumni pusintelstrat dan yang pernah menjadi pejabat intel karir yang umumnya nasib karirnya kurang bagus karena diskriminasi sistem pembinaan dan karir dalam organisasi TNI. 

Kerusakan terparah dalam BAIS TNI utamanya adalah dalam masalah analisa dimana kelemahan ini menjadi fatal dalam tindak saran dan penentuan target operasi serta tujuan operasi yang menjadi tidak jelas. Ketidakmampuan BAIS TNI dalam mengolah informasi menyebabkan TNI secara umum kurang adaptif terhadap dinamika keamanan dan pertahanan. Masalah lemahnya analisa tersebut diperparah oleh ketidakmampuan pengumpul bahan keterangan dalam negeri yang tersebar di seluruh Kodam dan jajaran dibawahnya serta Athan untuk informasi dari luar negeri. Intelijen telah kehilangan jiwanya, dan apa yang terjadi hanyalah rutinitas tanpa seni tinggi yang menyebabkan data yang diperoleh menjadi abal-abal yang orang umum sekalipun mampu memperolehnya. Sebagai contoh misalnya tentang bahaya komunisme dan maraknya gerakan-gerakan yang mendorong "penerimaan" kembali eksistensi komunisme di Indonesia. Tampak jelas bahwa BAIS TNI kurang mampu merespon secara cerdas apa yang disebut sebagai bahaya komunisme (mohon maaf kami tidak dapat menuliskannya lebih jauh karena sifatnya yang rahasia). 

Senada dengan apa yang terjadi di BAIS TNI, BIN mengalami kerusakan demi kerusakan yang juga tidak kalah parahnya. Selain migrasi militer tanpa kemampuan dan pengalaman intelijen secara besar-besaran setelah Direktur personalia BIN kembali diambil alih militer, BIN mengalami apa yang dapat disebut sebagai pembusukan tanpa sadar baik oleh pendatang yang baru bergabung maupun oleh organik intelijen yang lahir dari rahim BIN sendiri. BIN bagaikan pelacur cantik yang kaya raya, sangat menarik untuk dimiliki, diserap saripatinya, kemudian dibiarkan layu kering dan mati. Nasib BIN serupa dengan pemerkosaan Yuyun di Bengkulu, dimana gadis belia bernama Desi Wahyuni yang diperkosa dan dibunuh oleh 14 pemuda bejat. Pemerkosaan terhadap BIN bukan masalah jabatan sipil militer ataupun tentang dana operasi yang kurang transparan. Pemerkosaan terhadap BIN terjadi terhadap idealisme dan profesionalisme intelijen yang menjadi mati secara perlahan-lahan karena ketidakmengertian dan ketidakpedulian terhadap pengembangan intelijen yang handal. Pemerkosaan terhadap mayat BIN antara lain sbb:

Pertama, sistem rekrutmen BIN sudah semakin rusak dan menjadi tidak jelas landasannya. Dalam rangka mewujudkan insan intelijen yang tangguh dan profesional, BIN secara terbuka membuka lowongan pegawai dari PNS, anggota TNI dan Polri. LihatPengumuman ini. Hal ini berdampak pada pembengkakan anggaran, yakni sebesar 700 M hanya untuk rekrutmen yang belum tentu berdampak positif bagi BIN. Akal-akalan memenuhi "kebutuhan" personil intelijen yang mencapai ribuan orang tersebut tidak lain tidak bukan adalah jalan menuju kerusakan yang lebih parah. Dengan target utama mendapatkan tambahan anggaran uang segar, BIN tidak segan-segan menelanjangi dirinya, membuka dirinya bahkan setengah menjajakan dirinya bagaikan pelacur ditepi jalan melambai-lambaikan tangannya kepada pria hidung belang. Baca benarkah BIN membutuhkan ribuan personil? Dapat saya pastikan jawabannya TIDAK.

Kedua, sistem pendidikan BIN bukan saja sudah rusak melainkan juga semakin menjauh dari standar minimal sebuah proses pendidikan intelijen. Kerusakan sistem pendidikan BIN diawali dari kebutuhan akan tenaga intel yang handal. Pada awalnya ide pembentukan Sekolah Intelijen sangat baik, yakni untuk mempersiapkan insan intelijen yang unggul. Namun ketika sekolah intelijen dipersiapkan, tenaga pengajarnya tidak dipersiapkan dengan baik sehingga kurikulum, teknik pengajaran, bahan ajar, dan tujuan yang ingin dicapai sangat jauh dari harapan. Apa yang kita kenal sekarang sebagai Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN)sesungguhnya hanya menghasilkan insan intelijen cacat bawaan yang disebabkan oleh para pengajar dan pengelolanya. Rekrutmennya sudah baik dan selektif sehingga terpilih pemuda pemudi cerdas dan tangguh, namun mereka masuk ke dalam kawah pembodohan dengan memperoleh kulit ilmu intelijen dan provokasi pengajar yang tidak kompeten, sehingga bibit unggul tersebut menjadi rusak. Selama BIN dan STIN tidak memberikan dedikasi khusus untuk peningkatan kualitas para pengajarnya, maka STIN sebaiknya dibubarkan saja. Akan lebih efektif dan efisien apabila BIN berkonsentrasi pada pendidikan level Strata 2 (Master) guna memberikan pendalaman akademik intelijen kepada lulusan sarjana yang bekerja di BIN dalam rangka meningkatkan wawasan strategis dan kemampuan analisa.
Sementara itu, pendidikan dan pelatihan BIN juga perlu diperbaiki kualitasnya sehingga benar-benar dapat menjadi rujukan bagi peningkatan kualitas intelijen secara nasional.

Situasi yang juga tidak kalah rusaknya adalah infiltrasi dan rekrutmen asing terhadap anggota BIN melalui pendidikan dan pelatihan yang ditawarkan oleh intelijen asing. Sesungguhnya BIN tidak memerlukan pelatihan asing, khususnya bagi pegawai baru BIN yang rawan direkrut asing. Apa yang diajarkan asing adalah juga sudah diketahui oleh BIN. Untuk kursus bahasa asing, BIN dapat mengembangkan sendiri dan mengirimkan anggotanya tanpa melalui intelijen asing. Sangat aneh apabila anggota BIN belajar bahasa Inggris atas fasilitasi dari Intelijen Asing bukan? Katanya intel, tapi masa untuk belajar ilmu intelijen atau belajar bahasa asing diketahui oleh intelijen asing. Bandingkan dengan Intelijen Australia, Amerika Serikat, Israel dan lain-lain, mereka langsung mengirimkan agen-agennya ke Yogyakarta untuk belajar bahasa Indonesia tanpa diketahui BIN.   
Hal yang juga tidak kurang mengkhawatirkan adalah pendidikan dan pelatihan intelijen oleh SVR Rusia yang semakin aneh dari tahun ke tahun dengan terus-menerus menawarkan pelatihan gratis + jalan-jalan ke Rusia, Wow! siapa yang tidak tertarik? Baca Penggalangan Rusia terhadap BIN

Ketiga, sistem pemeriksaan keuangan BIN dengan alih-alih operasi menyebabkan BPK kurang teliti dalam melakukan pemeriksaan sehingga apa yang didanai sebagai operasi seolah tidak perlu diperiksa lebih jauh. Padahal sangat banyak penyimpangan yang sangat menyakitkan hati rakyat Indonesia yang harus diperhatikan oleh BPK.

Keempat, sebagaimana disinyalir oleh Kepala BIN sendiri bahwa kepemimpinan di BIN ternyata ada yang ada yang suka maki-maki dan tidak mampu mengendalikan emosi. Sutiyoso memanfaatkan momentum masalah dalam kepemimpinan Ahok di DKI Jakartauntuk menyindir wakilnya sendiri yang suka menggunakan gaya militer dan memaki-maki bahkan melakukan tindakan fisik. Situasi kepemimpinan yang kurang sehat tersebut bervariasi di berbagai level yang menyebabkan lingkungan bekerja yang kurang kondusif. Hal ini tidak lain tidak bukan disebabkan oleh kurangnya penghayatan terhadap profesi intelijen karena minimnya ilmu dan pengalaman.

Kelima, pejabat pendatang berlatar belakang militer dan Polri di BIN kurang berkualitas dan pejabat organik asli BIN ternyata juga kurang berkualitas. Lha bagaimana ini? Nangka busuk bergabung dengan durian busuk, maka yang terjadi adalah pencampuran aroma kebusukan yang akhirnya bersatupada dalam kenyamanan menikmati dana operasi intelijen BIN yang kurang diteliti secara seksama oleh BPK.

Terakhir, situasi umum BIN tersebut telah mempengaruhi gairah kerja seluruh anggota BIN yang akhirnya seenaknya saja dalam melakukan kegiatan memakan uang pajak rakyat Indonesia. Di dalam negeri, agen-agen BIN relatif santai dan berlimang uang operasi dengan pertanggungjawaban yang tidak seimbang dengan kontribusi laporan. Di luar negeri, agen-agen BIN sibuk bergaya diplomat, jalan-jalan dan belanja dengan uang dollar menyenangkan hati keluarga, sementara laporan intelijen NOL BESAR. Kurangnya kontrol/kendali operasi yang diikuti dengan reward and punishment yang tegas telah menyebabkan kerusakan BIN tersebut nyaris tidak dapat terobati lagi.

Sedemikian rusaknya kah BAIS TNI dan BIN? Tentunya apa-apa yang saya tuliskan disini belum tentu 100% benar. Kebenaran adalah tetap benar walaupun pahit. Mohon maaf bila ada yang tersinggung dan marah. Bila anda bekerja untuk BAIS TNI dan BIN silahkan periksa diri anda sendiri sebelum menilai tulisan ini. Silahkan lihat lingkungan kerja anda sebelum menuduh Blog I-I menyebarluaskan kebohongan. Blog I-I terbuka terhadap sanggahan, bantahan, dan pendapat yang berbeda, karena Indonesia telah berdemokrasi dan memberikan kebebasan kepada seluruh warganya untuk berpendapat.

Blog I-I bertanggungjawab kepada kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kepada rakyat Indonesia, kepada idealisme intelijen, dengan berat hati dengan tangisan dan darah bertahan dalam kata dan tulisan ini dengan harapan semoga suatu saat nanti akan terjadi perubahan menjadi lebih baik. 

Salam Intelijen,
Senopati Wirang

Read More »
01.34 | 0 komentar

Jumat, 06 Mei 2016

Selamat Ulang Tahun Intelijen Negara: Sebuah Renungan

Artikel telah dihapus

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bersama ini kami atas nama seluruh komunitas Blog Intelijen Indonesia menyampaikan permohonan ma'af yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar Badan Intelijen Negara (BIN) atas artikel yang telah menyakiti hati dan perasaan keluarga besar BIN di hari ulang tahun Badan Intelijen Negara.



Dharma Bhakti Intelijen untuk seluruh Rakyat Indonesia


Salam Intelijen
Senopati Wirang


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Read More »
23.46 | 0 komentar

Minggu, 10 April 2016

Intelijen Buta dan Tuli

Berikut ini puisi yang dipersembahkan untuk seluruh Insan Intelijen Indonesia. Disusun dengan perasaan sedih, malu, dan berdosa kepada seluruh rakyat Indonesia. Dengan tetesan air mata dan keprihatinan yang mendalam, kami berharap seluruh Insan Intelijen Indonesia menyadari kelemahan dan kerusakan-kerusakan dirinya.


Intelijen Buta dan Tuli

Silahkan ambil semua yang dibutuhkan
Dalam keserakahan dan kebohongan 
Dalam pencitraan dan penyesatan
Dengan hati terluka kami berdo'a
Semoga mata dan telinga tetap sehat
Demi kesejahteraan dan keselamatan
Rakyat Indonesia

Katakan, kami bertahan dalam kegilaan
Menutupi kebenaran dan keadilan
Kami bersalah dan dipersalahkan
Kehilangan kebanggaan dan kepercayaan
Menyaksikan insan intelijen lupa jati dirinya
Lupa tangisan dan harapan
Rakyat Indonesia

Berharap, kami berharap berubah
Tahun demi tahun tiada yang peduli
Semua hanya berpura-pura
Demi uang operasi abal-abal
Melacurkan diri kepada selain tugas
Melarikan diri dari amanat
Rakyat Indonesia
 
Kemunduran kualitas dikompensasi dengan kuantitas
Intel gendut sulit berlari cepat dalam kebodohan
Hanya menikmati uang operasi melupakan tugas
Menjadi budak program kerja demi uang
Idealisme menguap dalam kegelapan
Mengkhianat janji dan sumpah kepada
Rakyat Indonesia 

Ma'af, ma'afkanlah kami insan yang lemah
Telah membutakan diri dan menutup telinga
Tidak berdaya hadapi komando pembusukan
Kami bertahan karena ingat penderitaan rakyat
Tetap bekerja walau sebagai bahan tertawaan
Jatuh terperosok dikuasai asing, politik, dan uang
Maafkan kami....Rakyat Indonesia

10 April 2016
Atas nama seluruh Insan Intelijen yang terluka
Senopati Wirang

Read More »
01.19 | 0 komentar

Rabu, 06 April 2016

Kepada Seluruh Umat Islam Indonesia

Artikel ini bukan artikel intelijen dalam konteks NKRI, melainkan suatu perspektif pribadi yang dijiwai oleh semangat berbuat baik sebagaimana diajarkan dalam Islam.
Mohon maaf sebelumnya apabila analisa dalam artikel Skenario Penghancuran Islam telah menyinggung sebagian umat Islam Indonesia karena dapat diterjemahkan sebagai tuduhan "kebodohan" kepada saudara-saudara kita yang berjihad ke Irak dan Suriah dan terlibat dalam perang proxy yang kompleks yang melibatkan AS-Israel-Barat-Rusia-Iran-Arab Saudi-Turki. Benar bahwa artikel tersebut menggunakan teknik framing dari data-data sejarah konflik yang terjadi terkait dunia Islam, khususnya di Timur Tengah. Benar bahwa Blog I-I tidak mengambil rujukan kepada Al Quran dan Hadits karena hal itu bukan keahlian komunitas Blog I-I. Mohon agar dimaklumi bahwa artikel tersebut tidak secara eksklusif membela Islam. Tujuan artikel tersebut adalah dalam rangka pembelajaran dengan menyajikan artikel yang bersifat netral dalam kerangka Negara Republik Indonesia.


Kami sangat paham dengan semangat jihad dalam arti berperang yang dikobarkan sebagian umat Islam Indonesia yang sangat peduli dengan perkembangan dunia Islam baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bahwa kematian adalah hal yang pasti terjadi dan menjemput kematian secara mulia dengan jihad adalah inti ajaran jihad yang tidak dapat dibantah oleh setiap orang yang mengaku Muslim. Persoalannya bukan pada konsep jihad perang atau qital yang merupakan jihad tertinggi dalam Islam, melainkan kepada kehati-hatian dalam menyikapi strategi dan tipu daya yang meyebabkan umat Islam terpuruk dalam ketidakberdayaan. 

Secara bathiniah dan keyakinan beragama, bahwa apapun yang terjadi di dunia baik dan buruk adalah atas Kehendak Allah SWT merupakan keimanan. Kami tidak akan membantah anggapan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar konflik di dunia Islam adalah ketetapan Allah SWT dan bukan karena "kehebatan" skenario Barat (AS, Israel dan sekutunya) atau pengaruh Rusia, Iran dan lain-lain dalam menciptakan kondisi tersebut. Apa yang kami gambarkan dalam artikel Skenario Penghancuran Islam adalah suatu dinamika, proses, dan sebab akibat yang kemudian dapat kita terjemahkan sesuai dengan kemampuan akal kita masing-masing. Kami belum tentu benar bahkan boleh jadi jauh dari hakikat kebenaran. Peristiwa-peristiwa di dunia dapat selalu dikaitkan dengan ajaran agama, dapat diproses untuk dipahami secara saintifik (akademis), dapat didekati dengan pemahaman akal yang terbatas, dapat diserap dengan common sense, atau bahkan dapat tidak dipedulikan, kembali kepada masing-masing individu. Salah satu hal terpenting yang umumnya dilakukan manusia adalah berusaha untuk memahami persitiwa-peristiwa dunia tersebut untuk kemudian menjadi bahan pertimbangan dalam menyikapinya. 

Kehinaan dan pelecehan yang terjadi terhadap umat Islam di dunia maupun di Indonesia salah satunya adalah karena meninggalkan jihad dan kehilangan semangat/spirit dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam. Keyakinan kepada ajaran Islam tergerus oleh konsep-konsep yang dibangun dari pemahaman akal manusia tentang begaimana manusia seharusnya berperilaku, berkarya, bernegara, behubungan sosial, dst. Ketika mantan Presiden PKS, Tifatul Sembiring mengutip hadits riwayat Ahmad tentang homoseksualitas, maka hal itu memicu "kemarahan" pembela LGBT yang menyebabkan tuduhan hate speech. Hakikat di atas empirisme, manusia tidak akan pernah pernah mampu mencapai penjelasan total tentang hakikat yang tersimpan dibalik hukuman yang keras terhadap homoseksualitas. Kemanusiaan dan penerimaan manusia terhadap hukum-hukum agama dan hukum-hukum buatan manusia sangat terkait erat dengan kenyamanan sang manusia itu sendiri. Penolakan campur tangan agama dalam urusan sosial, negara, dan peri kehidupan manusia berpusat pada keinginan untuk "bebas", bebas dari aturan agama. Namun karena manusia perlu diatur, maka manusia kemudian membuat aturan-aturan baru termasuk yang dianggap bertentangan dengan agama.

Ketika kasus tewasnya Siyono dalam status tahanan  Densus 88 mengemuka, berbagai reaksi bermunculan yang intinya mempertanyakan cara-cara perlakuan Densus 88 terhadap tahanannya. Mengapa terjadi kondisi tubuh Siyono dengan pendarahan kepala belakang, luka lebam di wajah, tangan, dada, dan patah tulang rusuk? Dari sisi polisi bahkan semakin keras dengan menyatakan bahwa ada kelompok pro teroris yang mendukung Siyono. Kapolri pun menyatakan bahwa Siyono adalah Panglima Neo Jamaah Islamiyah, sebuah pernyataan prematur yang hanya berdasarkan pada dugaan keterkaitan dengan Jamaah Islamiyah yang telah porak poranda. Peranan ormas Muhammadiyah patut dihargai karena mampu menengahi perbedaan pendapat ini dengan kepala dingin dan efektif berpegangan pada fakta-fakta upaya pengungkapan kebenaran dan penegakkan keadilan.

Orang Indonesia terdiri dari berbagai latar belakang etnis dan agama dan keyakinan. Kegagalan mayoritas umat Islam untuk bersatu dalam gerakan politik menyebabkan Indonesia tidak menjadi negara Islam sebagaimana dicita-citakan oleh sebagian umat Muslim yang dihatinya hanya terpatri oleh keIslaman. Kompromi Muslim moderat yang mengadopsi sebagian pemikiran Barat yang liberal menilai bahwa jalan tengah demokrasi masih dapat diterima sepanjang umat Islam tidak lagi ditindas. Agak aneh mengapa mayoritas tertindas bukan? Karena mayoritas umat Islam meninggalkan jihad dan menjadi pengecut-pengecut yang bersembunyi dibalik kehinaan atau karena mayoritas umat Islam Indonesia hanya berhenti pada level label semata dan bukan menghujam di dalam hati mewujud dalam perbuatan, perilaku dan amalannya. Berapa persen umat Islam Indonesia yang mengerti bacaan Al Quran? berapa persen yang memahami bahasa Arab? mengapa bahasa Arab tidak diajarkan di sekolah-sekolah umum sejak pendidikan dasar? Dimana perjuangan partai-partai politik dan ormas Islam yang mengaku membela Islam? 

Belajar bahasa Arab bukan suatu upaya Arabisasi, melainkan meningkatkan daya pemahaman terhadap sumber ajaran agama Islam sekaligus meningkatkan daya tangkal terhadap ajaran yang menyimpang dari Timur Tengah. Perhatikan derasnya pengaruh bahasa Inggris dan bahasa Mandarin di kota-kota besar di Indonesia yang bahkan meningkatkan daya tawar untuk bekerja di perusahaan-perusahaan yang menjanjikan gaji besar. Namun bila anda fasih berbahasa Arab, maka peluangnya mungkin mengajar, dan menjadi guide haji dan umroh, sementara dari aspek praktis berupa peningkatan kualitas keIslaman kurang menonjol.

Benar bahwa kami memperkirakan kehancuran umat Islam karena ulah umatnya sendiri yang meninggalkan jihad baik dalam artian perang sampai pada arti yang paling halus memerangi nafsu. Jangan disalah tafsirkan pandangan kami ini sebagai pembelaan terhadap terorisme atau dukungan terhadap radikalisme agama. Pada prinsipnya jihad adalah istilah yang baik dan mulia yang mengalami pelecehan makna karena ada pihak-pihak yang ingin mencabut semangat jihad dari seluruh dada umat Islam. Atau minimal setiap Muslim akan malu atau takut menyebut kata jihad karena khawatir dikaitkan dengan terorisme.


Demikian sedikit penjelasan dalam pandangan pribadi kami.
Ttd.
Jaringan Blog I-I Timur Tengah dan Afrika.


Penjelasan Senopati Wirang:

Perlu sahabat-sahabat Blog I-I ketahui bahwa Blog I-I tidak menutup diri dari kontribusi seluruh anak bangsa Indonesia untuk menyampaikan gagasan dan pandangannya tentang negara tercinta Indonesia. Jaringan Blog I-I di Timur Tengah adalah asset yang sangat berharga dan telah berkontribusi banyak dalam memberikan pemahaman tentang situasi di Timur Tengah dan dunia Islam. Jadi kepada jaringan atau siapapun anda bagian dari bangsa Indonesia yang ingin menyampaikan gagasan melalui Blog I-I, khususnya terkait pembelajaran tentang situasi strategis, taktis, terkait keamanan dan dunia intelijen, media Blog I-I terbuka luas.

Salam Intelijen
SW






Read More »
07.58 | 0 komentar