Jumat, 02 September 2016

The return of Blog Intelijen Indonesia (Blog I-I)

Vakum selama kurang lebih empat bulan bagi Blog I-I adalah waktu yang sangat singkat dalam dinamika keamanan nasional Indonesia yang masih memerlukan kehadiran diskusi, perdebatan, dan analisa yang baik demi rakyat Indonesia. Namun waktu empat bulan juga cukup lama apabila dalam periode tersebut terjadi kejutan-kejutan keamanan nasional yang membahayakan. Alhamdulillah, puji Tuhan situasi dan kondisi keamanan nasional Indonesia relatif stabil, aman, dan terkendali.

Artikel ini adalah yang pertama setelah proses panjang kepada berbagai pihak yang berwenang untuk memulihkan kembali eksistensi Blog I-I. Tidak perlu dijelaskan secara detail mengapa terjadi dan siapa-siapa saja yang terlibat, namun hal ini cukup menjadi pembelajaran bagi kita bersama untuk senantiasa mengutamakan kepentingan nasional, persatuan dan kesatuan, membiasakan kedewasaan dalam menerima kritik, tetap profesional dalam bidang masing-masing, serta menjauhi fitnah dan perilaku korup. Namun yang pasti, Blog I-I menghadapi lawan tangguh yang brillian justru dari agen  organik BIN yang tidak pernah diduga sebelumnya, tersembunyi, dan dapat dipastikan tidak akan mengakui pekerjaannya. Blog I-I pun tidak sanggup mengetahui identitas sesungguhnya dari sang agen tersebut. Untuk itulah rasa hormat yang setinggi-tingginya perlu disampaikan oleh segenap komunitas Blog I-I untuk mengakui kehebatan agen-agen BIN yang bekerja dalam kesunyian yang bahkan tidak diketahui oleh jajaran pimpinan BIN.


Kembalinya Blog I-I secara online tidak terlepas dari dukungan para pihak baik di lingkaran Istana maupun Senayan serta permohonan ma'af yang tulus kepada keluarga besar BIN. Jangan berharap untuk dapat membongkar jaringan Blog I-I dan siapa-siapa saja yang mendukung Blog I-I karena pekerjaan intel harus dapat dipastikan tertutup dengan baik. Bila ada pihak-pihak yang penasaran mencari tahu, Blog I-I dapat memastikan tidak akan pernah terungkap, karena inilah esensi atau hakikat dari jaring intelijen. Selain itu, tentunya juga kesepakatan dan komitmen seluruh komunitas Blog I-I untuk tidak mengulangi kekeliruan dan mengutamakan kepentingan nasional Indonesia dalam meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan yang semakin kompleks.

Isu-isu yang berada di wilayah internal organisasi intelijen Indonesia merupakan tanggung-jawab dari pimpinan intelijen dan Blog I-I berkomitmen tidak akan menyentuhnya lagi. Oleh karena itu, kepada seluruh jaringan Blog I-I yang bekerja untuk lembaga intelijen agar memperhatikan hal ini. Apabila anda yang bekerja di dalam lembaga intelijen melihat perilaku-perilaku yang merusak organisasi baik korupsi, kolusi, nepotisme, kesewenang-wenangan, tidak profesional, penyimpangan, konflik sipil-militer, dan berbagai kerusakan lainnya, berjuanglah di dalam organisasi untuk membawa perubahan yang lebih baik.

Meskipun komitmen Blog I-I tersebut demikian kuat, namun Blog I-I sesuai kesepakatan tetap diberikan ruang untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan intelijen yang membahayakan keamanan nasional atau merusak organisasi intelijen, misalnya kritik keras terhadap kebijakan rekrutmen 1000 agen BIN dari PNS, Militer, dan Polisi sebagaimana telah dianalisa Blog I-I. Singkatnya analisa strategis Blog I-I melihat sejumlah persoalan besar yang akan dihadapi oleh BIN apabila tetap ngotot melanjutkan rekrutmen tersebut. Untuk hal ini, mohon kiranya kepada para pimpinan intelijen untuk tidak berkuping tipis dalam membaca analisa-analisa Blog I-I.

Tanpa disadari pengaruh Blog I-I sedemikian besarnya ke dalam hati dan sanubari para intel aktif baik sipil maupun militer. Hal itu tidak terlepas dari misi Blog I-I mendorong peningkatan kualitas dan membangun kebanggaan profesi intelijen, mendekatkan realita dan fantasi intelijen, serta memotivasi disiplin yang tinggi untuk kemajuan Republik Indonesia dengan cipta kondisi rasa aman bagi rakyat Indonesia. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh jaringan Blog I-I yang senantiasa berbagi informasi untuk kemajuan Intelijen Indonesia.

Senopati Wirang sebagaimana dijelaskan dalam tulisan singkat Siapa Senopati Wirang?, Identitas Senopati Wirang, serta Senopati Wirang seorang pengecut pada hakikatnya adalah anda semua yang rajin mengunjungi dan membaca Blog Intelijen Indonesia. Bahwa saya menuliskannya secara online merupakan cerminan atau refleksi dari kegelisahan siapapun insan intelijen yang merasakan adanya suatu cita-cita ideal yang sangat jauh dari kenyataan. Setelah melalui proses introspeksi yang cukup panjang serta mendengarkan wejangan dari para senior sesepuh intelijen, maka sosok Senopati Wirang tersebut perlu saya jelaskan kembali disini.

Nama Senopati Wirang dalam sejarah Indonesia pertama kali dicetuskan oleh Blog I-I bukan berdasarkan pada sejarah Tata Negara Kerajaan di Jawa, melainkan dari gabungan dua kata yakni Senopati diambil dari Jalan Senopati dimana Kantor BAKIN pernah berada, dan Wirang dalam bahasa Jawa berarti malu atau membuat malu, atau menanggung malu. Belakangan sosok Senopati Wirang tersebut juga dibajak oleh sebagian kalangan pendukung Letjen (Purn) Prabowo Subianto dalam beberapa artikel dan media sosial. Posisi Senopati dalam susunan tata pemerintahan kerajaan di Jawa baik era Majapahit hingga Mataram sesungguhnya merupakan posisi selevel dengan Jenderal Bintang satu (Brigadir Jenderal), yakni hanya Kepala Pasukan Tentara Kerajaan atau setingkat Brigade yang mengkomandoi sekitar 3000-5000 pasukan. Seandainya pendukung Sdr. Prabowo mengerti sejarah dan kepangkatan militer tentunya tidak akan membajak nama Senopati Wirang dan melabelkannya kepada Sdr. Prabowo. Meskipun demikian istilah Senopati sejak era Mataram Baru juga digunakan untuk penyebutan Panglima tertinggi Tentara Kerajaan kepada Raja Mataram dengan istilah Sénopati-Ing-Ngalågå, namun tidak berdiri sendiri dalam kata Senopati.

Istilah yang lebih sering atau tepat digunakan dalam khasanah sastra atau sejarah Jawa adalah Satriya, Ksatria, atau Satria yang kemudian sering digabungkan dengan kata Wirang (malu) atau dengan kata Piningit (memingit diri, bersembunyi). Namun kedua istilah tersebut baik Satria Wirang maupun Satria Piningit identik dengan kompetisi, perang, atau pertarungan politik dimana dalam cerita-cerita kuno digambarkan Satria Piningit akan keluar sebagai pemenang, sedangkan Satria Wirang adalah pihak yang kalah.

Singkat kata, ketika Blog I-I mencetuskan nama sandi (code name) Senopati Wirang tidak terkait dengan istilah-istilah dalam sejarah, sastra maupun pertarungan politik nasional. Senopati Wirang adalah penyegar ingatan komunitas intelijen Indonesia baik didikan Pusdikintel TNI, Pusintelstrat Cilendek, Diklat BAKIN, Unit Pelaksana Operasi No..., Kamar...,  Sandi..., Tim..., dan lain-lain tentang mimpi dan idealisme intelijen yang bekerja keras dalam senyap untuk Republik Indonesia untuk rakyat Indonesia. Intelijen baik sipil maupun militer dalam sejarah Indonesia hampir selalu dinomorduakan dalam pilihan operasi, diabaikan dalam karir dan kesejahteraannya, bahkan dihina dicaci maki masyarakat karena ketidaktahuan. Sebagai contoh operasi intelijen dengan sandi Komodo di Timor Timur adalah kunci sukses integrasi Timor Timur disamping operasi militer Seroja. Namun dalam mengelola Timor Timur, pimpinan militer dan politik sangat minimal dalam menggunakan intelijen untuk penggalangan dengan memenangkan hati dan pikiran rakyat Timor Timur yang merupakan saudara. Kemudian juga lengah menghadapi intelijen asing yang bermain. Tim Intelijen yang bermain di Timor Timur baik Mawar maupun Melati lebih bersifat taktis dan Intel Combat, sementara Intel Counterinsurgency boleh dikatakan tidak dilakukan secara efektif dalam mengedepankan proses integrasi yang lebih alamiah dan manusiawi disertai keikhlasan.

Terlalu banyak untuk disebutkan kekeliruan pemerintah dan pemimpin di negeri ini dalam memperlakukan intelijen. Belum lagi soal sipil militer dan persaingan pejabat-pejabat tinggi intelijen dalam mencapai kekuasaan, misalnya contoh paling jelas dalam sejarah adalah persaingan Ali Moertopo dan Benny Moerdani yang berdampak kepada melemahnya BAKIN selama periode 1980-1990an yang menyebabkan BAKIN terpuruk dan berpuncak pada akhir 1998 dengan jatuhnya Presiden Suharto. Analisa ini tampak sederhana, namun sahabat Blog I-I dapat menanyakan langsung kepada para saksi sejarah mantan Intel baik sipil dan militer yang masih hidup tentang bagaimana melorotnya kinerja BAKIN ketika Leonardus Benjamin Moerdani berkuasa.

Untuk mimpi idealisme intelijen Indonesia yang modern, profesional, berkinerja tinggi, serta beretika dalam memperjuangkan kepentingan nasional dan memperhatikan jerit tangis rakyat Indonesialah, sosok Senopati Wirang lahir. Senopati Wirang lahir dengan membawa cacat nama wirang karena merupakan refleksi komunitas intelijen yang berada dalam kegamangan profesi dan kehilangan kepercayaan diri. Berulang kali, Senopati Wirang mengingatkan seluruh komunitas intelijen untuk kembali kepada hakikat profesi intelijen yang bebas politik, profesional, dan selalu antisipatif terhadap perubahan, namun keluhan demi keluhan dan sikap kurang disiplin sampai kepada Blog I-I justru dari dalam komunitas intelijen. Sedih....sungguh sedih, namun janganlah kita menyerah dengan keadaan, mulailah berubah dari diri kita masing-masing. Bila sahabat Blog I-I perhatikan, Blog I-I juga mengalami naik turun dan berevolusi dalam semangat mendorong kemajuan Intelijen Indonesia baik dengan motivasi maupun pil pahit kenyataan.

Blog I-I akan meneruskan nama sandi Senopati Wirang sebagai pengingat pil pahit kepada siapapun yang berpotensi merusak Intelijen Indonesia. Namun hari ini, sehari setelah Presiden Jokowi menyampaikan Surat Permohonan Pertimbangan Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Badan Intelijen Negara tertanggal 1 September 2016, Blog I-I melahirkan nama sandi baru Dharma Bhakti sebagai pengingat bahwa profesi intelijen di Indonesia memegang prinsip kewajiban disiplin dalam pengabdian kepada Republik Indonesia dan rakyat Indonesia.

Akhir kata, peribahasa tiada ada gading yang tak retak sangatlah tepat dalam menggambarkan perjalanan berliku-liku Blog I-I selama belasan tahun ini. Semoga peribahasa sepandai-pandai tupai meloncat akhirnya jatuh juga tidak berlaku bagi Blog I-I.

Salam Intelijen
Dharma Bhakti

Read More »
23.28 | 0 komentar

Minggu, 22 Mei 2016

Selamat Ulang Tahun Intelijen Negara: Sebuah Renungan

Entah mengapa tiba-tiba ulang tahun Badan Intelijen Negara (BIN) menjadi dirayakan setiap tanggal 7 Mei 2016. Konon tanggal tersebut merujuk kepada pelantikan 30 pemuda lulusan Sekolah Intelijen Nakano (Jepang) menjadi anggota Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI) dibawah pimpinan Kolonel Zulkifli Lubis. Konon pula, tanggal 7 Mei tersebut juga bertepatan dengan hari ulang tahun Jenderal TNI (Purn) DR. A.M. Hendropriyono, dimana dimulai era Hendropriyono tersebutlah perayaan ulang tahun BIN setiap tanggal 7 Mei dimulai. Tidak ada yang aneh atau salah dengan perayaan hari lahir intelijen Indonesia tersebut, hanya saja fakta-fakta mengenai jatidiri intelijen harus diketahui secara detail oleh seluruh insan intelijen.

Renungan intelijen negara berikut ini langsung menyentuh jantung dua organisasi intelijen Indonesia yakni BAIS TNI dan BIN dimana keduanya menganggap BRANI dibawah pimpinan Kolonel Zulkifli Lubis sebagai cikal-bakal lembaga intelijen di Indonesia.

Memasuki usia 70 tahun semoga seluruh komunitas Intelijen dapat menerima dan melakukan introspeksi melalui renungan ini.


Ketika saya menuliskan puisi Intelijen Buta dan Tuli hal itu merupakan refleksi keprihatinan yang mendalam terhadap kondisi faktual intelijen Indonesia khususnya BIN dan BAIS TNI yang semakin rusak dari waktu ke waktu. Kerusakan demi kerusakan dunia intelijen disebabkan oleh latar belakang nahkoda pimpinan intelijen di kedua lembaga tersebut yang kurang kompeten dan sangat sedikit ilmu dan pengalamannya dalam membangun lembaga intelijen. Namun karena konstelasi politik dan kalkulasi kekuatan strategis, maka tidak terhindarkan bahwa kerusakan di kedua lembaga telah mencapai level sangat berat dan sulit diperbaiki. 

Secara umum BAIS TNI dikuasai oleh Panglima TNI dengan pucuk pimpinan berada ditangan kepercayaan Panglima guna memastikan Menhan tidak mengendalikan dan mengakses informasi strategis seenaknya saja. Hal ini sepintas wajar, namun dalam konteks strategis menjadi kurang pas karena Kementerian Pertahanan seharusnya menjadi pusat penyusunan strategi pertahanan nasional, sementara Mabes TNI menjadi mitra utamanya dengan fokus kepada level operasionalisasi dan taktis utamanya terkait dengan gelar pasukan di seluruh nusantara, serta berbagai hal terkait personil, logistik, keuangan, alutsista, dan administrasi lainnya. Ketika Panglima merangkap Menhan, tidak ada masalah karena berada di satu tangan yang mengkoordinasikan seluruh level kegiatan baik strategis maupun taktis dan operasional. Namun setelah terjadi pemisahan, maka terjadilah kesulitan dalam sinkronisasi. Situasi tersebut biasa saja dan telah diperkirakan akan terjadi sejak awal reformasi setengah hati yang ditempuh TNI.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh Menhan apabila tidak memperoleh informasi dari BAIS TNI karena kondisi BAIS TNI sudah sangat parah baik pada level pengumpulan informasi maupun analisa. Kemunduran profesionalisme BAIS TNI merupakan dampak dari sistem penempatan anggota dan pejabat BAIS yang seiring waktu diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan intelijen dan pengalaman operasi intelijen yang cukup. BAIS TNI tiba-tiba menjadi tempat parkir perwira menengah Kolonel mantan Athan yang berharap menjadi Jenderal dengan menduduki jabatan Direktur. Mayoritas Athan Indonesia hanya memiliki sedikit kemampuan intelijen karena sistem seleksi dan latar belakang yang beragam. Kemudian melalui pendidikan persiapan Athan, salah satunya pendidikan intelijen positif maka mereka para Athan mengklaim memiliki pengetahuan intelijen, padahal hal itu hanya kulitnya saja. Penyakit parah BAIS TNI tersebut telah ditularkan kepada BIN dengan melempar para Kolonel pengangguran tersebut menjadi pejabat di BIN dan mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Jenderal karena jabatan di BIN.

Patut diakui bahwa ada sebagian kecil anggota dan pejabat BAIS TNI yang memiliki ilmu dan pengalaman intelijen yang mumpuni. Namun karena jumlahnya sangat sedikit, maka peranan mereka menjadi minimal dan mereka mengalami frustasi luar biasa karena tidak berdaya dalam mengaplikasikan ilmu dan pengalaman intelijennya karena mayoritas tidak mengerti intelijen. Mereka yang mumpuni tersebut umumnya adalah sisa-sisa didikan Jenderal Benny Murdani seperti mantan Charlie dll, serta alumni pusintelstrat dan yang pernah menjadi pejabat intel karir yang umumnya nasib karirnya kurang bagus karena diskriminasi sistem pembinaan dan karir dalam organisasi TNI. 

Kerusakan terparah dalam BAIS TNI utamanya adalah dalam masalah analisa dimana kelemahan ini menjadi fatal dalam tindak saran dan penentuan target operasi serta tujuan operasi yang menjadi tidak jelas. Ketidakmampuan BAIS TNI dalam mengolah informasi menyebabkan TNI secara umum kurang adaptif terhadap dinamika keamanan dan pertahanan. Masalah lemahnya analisa tersebut diperparah oleh ketidakmampuan pengumpul bahan keterangan dalam negeri yang tersebar di seluruh Kodam dan jajaran dibawahnya serta Athan untuk informasi dari luar negeri. Intelijen telah kehilangan jiwanya, dan apa yang terjadi hanyalah rutinitas tanpa seni tinggi yang menyebabkan data yang diperoleh menjadi abal-abal yang orang umum sekalipun mampu memperolehnya. Sebagai contoh misalnya tentang bahaya komunisme dan maraknya gerakan-gerakan yang mendorong "penerimaan" kembali eksistensi komunisme di Indonesia. Tampak jelas bahwa BAIS TNI kurang mampu merespon secara cerdas apa yang disebut sebagai bahaya komunisme (mohon maaf kami tidak dapat menuliskannya lebih jauh karena sifatnya yang rahasia). 

Senada dengan apa yang terjadi di BAIS TNI, BIN mengalami kerusakan demi kerusakan yang juga tidak kalah parahnya. Selain migrasi militer tanpa kemampuan dan pengalaman intelijen secara besar-besaran setelah Direktur personalia BIN kembali diambil alih militer, BIN mengalami apa yang dapat disebut sebagai pembusukan tanpa sadar baik oleh pendatang yang baru bergabung maupun oleh organik intelijen yang lahir dari rahim BIN sendiri. BIN bagaikan pelacur cantik yang kaya raya, sangat menarik untuk dimiliki, diserap saripatinya, kemudian dibiarkan layu kering dan mati. Nasib BIN serupa dengan pemerkosaan Yuyun di Bengkulu, dimana gadis belia bernama Desi Wahyuni yang diperkosa dan dibunuh oleh 14 pemuda bejat. Pemerkosaan terhadap BIN bukan masalah jabatan sipil militer ataupun tentang dana operasi yang kurang transparan. Pemerkosaan terhadap BIN terjadi terhadap idealisme dan profesionalisme intelijen yang menjadi mati secara perlahan-lahan karena ketidakmengertian dan ketidakpedulian terhadap pengembangan intelijen yang handal. Pemerkosaan terhadap mayat BIN antara lain sbb:

Pertama, sistem rekrutmen BIN sudah semakin rusak dan menjadi tidak jelas landasannya. Dalam rangka mewujudkan insan intelijen yang tangguh dan profesional, BIN secara terbuka membuka lowongan pegawai dari PNS, anggota TNI dan Polri. LihatPengumuman ini. Hal ini berdampak pada pembengkakan anggaran, yakni sebesar 700 M hanya untuk rekrutmen yang belum tentu berdampak positif bagi BIN. Akal-akalan memenuhi "kebutuhan" personil intelijen yang mencapai ribuan orang tersebut tidak lain tidak bukan adalah jalan menuju kerusakan yang lebih parah. Dengan target utama mendapatkan tambahan anggaran uang segar, BIN tidak segan-segan menelanjangi dirinya, membuka dirinya bahkan setengah menjajakan dirinya bagaikan pelacur ditepi jalan melambai-lambaikan tangannya kepada pria hidung belang. Baca benarkah BIN membutuhkan ribuan personil? Dapat saya pastikan jawabannya TIDAK.

Kedua, sistem pendidikan BIN bukan saja sudah rusak melainkan juga semakin menjauh dari standar minimal sebuah proses pendidikan intelijen. Kerusakan sistem pendidikan BIN diawali dari kebutuhan akan tenaga intel yang handal. Pada awalnya ide pembentukan Sekolah Intelijen sangat baik, yakni untuk mempersiapkan insan intelijen yang unggul. Namun ketika sekolah intelijen dipersiapkan, tenaga pengajarnya tidak dipersiapkan dengan baik sehingga kurikulum, teknik pengajaran, bahan ajar, dan tujuan yang ingin dicapai sangat jauh dari harapan. Apa yang kita kenal sekarang sebagai Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN)sesungguhnya hanya menghasilkan insan intelijen cacat bawaan yang disebabkan oleh para pengajar dan pengelolanya. Rekrutmennya sudah baik dan selektif sehingga terpilih pemuda pemudi cerdas dan tangguh, namun mereka masuk ke dalam kawah pembodohan dengan memperoleh kulit ilmu intelijen dan provokasi pengajar yang tidak kompeten, sehingga bibit unggul tersebut menjadi rusak. Selama BIN dan STIN tidak memberikan dedikasi khusus untuk peningkatan kualitas para pengajarnya, maka STIN sebaiknya dibubarkan saja. Akan lebih efektif dan efisien apabila BIN berkonsentrasi pada pendidikan level Strata 2 (Master) guna memberikan pendalaman akademik intelijen kepada lulusan sarjana yang bekerja di BIN dalam rangka meningkatkan wawasan strategis dan kemampuan analisa.
Sementara itu, pendidikan dan pelatihan BIN juga perlu diperbaiki kualitasnya sehingga benar-benar dapat menjadi rujukan bagi peningkatan kualitas intelijen secara nasional.

Situasi yang juga tidak kalah rusaknya adalah infiltrasi dan rekrutmen asing terhadap anggota BIN melalui pendidikan dan pelatihan yang ditawarkan oleh intelijen asing. Sesungguhnya BIN tidak memerlukan pelatihan asing, khususnya bagi pegawai baru BIN yang rawan direkrut asing. Apa yang diajarkan asing adalah juga sudah diketahui oleh BIN. Untuk kursus bahasa asing, BIN dapat mengembangkan sendiri dan mengirimkan anggotanya tanpa melalui intelijen asing. Sangat aneh apabila anggota BIN belajar bahasa Inggris atas fasilitasi dari Intelijen Asing bukan? Katanya intel, tapi masa untuk belajar ilmu intelijen atau belajar bahasa asing diketahui oleh intelijen asing. Bandingkan dengan Intelijen Australia, Amerika Serikat, Israel dan lain-lain, mereka langsung mengirimkan agen-agennya ke Yogyakarta untuk belajar bahasa Indonesia tanpa diketahui BIN.   
Hal yang juga tidak kurang mengkhawatirkan adalah pendidikan dan pelatihan intelijen oleh SVR Rusia yang semakin aneh dari tahun ke tahun dengan terus-menerus menawarkan pelatihan gratis + jalan-jalan ke Rusia, Wow! siapa yang tidak tertarik? Baca Penggalangan Rusia terhadap BIN. 

Ketiga, sistem pemeriksaan keuangan BIN dengan alih-alih operasi menyebabkan BPK kurang teliti dalam melakukan pemeriksaan sehingga apa yang didanai sebagai operasi seolah tidak perlu diperiksa lebih jauh. Padahal sangat banyak penyimpangan yang sangat menyakitkan hati rakyat Indonesia yang harus diperhatikan oleh BPK.

Keempat, sebagaimana disinyalir oleh Kepala BIN sendiri bahwa kepemimpinan di BIN ternyata ada yang ada yang suka maki-maki dan tidak mampu mengendalikan emosi. Sutiyoso memanfaatkan momentum masalah dalam kepemimpinan Ahok di DKI Jakartauntuk menyindir wakilnya sendiri yang suka menggunakan gaya militer dan memaki-maki bahkan melakukan tindakan fisik. Situasi kepemimpinan yang kurang sehat tersebut bervariasi di berbagai level yang menyebabkan lingkungan bekerja yang kurang kondusif. Hal ini tidak lain tidak bukan disebabkan oleh kurangnya penghayatan terhadap profesi intelijen karena minimnya ilmu dan pengalaman.

Kelima, pejabat pendatang berlatar belakang militer dan Polri di BIN kurang berkualitas dan pejabat organik asli BIN ternyata juga kurang berkualitas. Lha bagaimana ini? Nangka busuk bergabung dengan durian busuk, maka yang terjadi adalah pencampuran aroma kebusukan yang akhirnya bersatupada dalam kenyamanan menikmati dana operasi intelijen BIN yang kurang diteliti secara seksama oleh BPK.

Terakhir, situasi umum BIN tersebut telah mempengaruhi gairah kerja seluruh anggota BIN yang akhirnya seenaknya saja dalam melakukan kegiatan memakan uang pajak rakyat Indonesia. Di dalam negeri, agen-agen BIN relatif santai dan berlimang uang operasi dengan pertanggungjawaban yang tidak seimbang dengan kontribusi laporan. Di luar negeri, agen-agen BIN sibuk bergaya diplomat, jalan-jalan dan belanja dengan uang dollar menyenangkan hati keluarga, sementara laporan intelijen NOL BESAR. Kurangnya kontrol/kendali operasi yang diikuti dengan reward and punishment yang tegas telah menyebabkan kerusakan BIN tersebut nyaris tidak dapat terobati lagi.

Sedemikian rusaknya kah BAIS TNI dan BIN? Tentunya apa-apa yang saya tuliskan disini belum tentu 100% benar. Kebenaran adalah tetap benar walaupun pahit. Mohon maaf bila ada yang tersinggung dan marah. Bila anda bekerja untuk BAIS TNI dan BIN silahkan periksa diri anda sendiri sebelum menilai tulisan ini. Silahkan lihat lingkungan kerja anda sebelum menuduh Blog I-I menyebarluaskan kebohongan. Blog I-I terbuka terhadap sanggahan, bantahan, dan pendapat yang berbeda, karena Indonesia telah berdemokrasi dan memberikan kebebasan kepada seluruh warganya untuk berpendapat.

Blog I-I bertanggungjawab kepada kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kepada rakyat Indonesia, kepada idealisme intelijen, dengan berat hati dengan tangisan dan darah bertahan dalam kata dan tulisan ini dengan harapan semoga suatu saat nanti akan terjadi perubahan menjadi lebih baik. 

Salam Intelijen,
Senopati Wirang

Read More »
01.34 | 0 komentar

Jumat, 06 Mei 2016

Selamat Ulang Tahun Intelijen Negara: Sebuah Renungan

Artikel telah dihapus

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bersama ini kami atas nama seluruh komunitas Blog Intelijen Indonesia menyampaikan permohonan ma'af yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar Badan Intelijen Negara (BIN) atas artikel yang telah menyakiti hati dan perasaan keluarga besar BIN di hari ulang tahun Badan Intelijen Negara.



Dharma Bhakti Intelijen untuk seluruh Rakyat Indonesia


Salam Intelijen
Senopati Wirang


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Read More »
23.46 | 0 komentar

Minggu, 10 April 2016

Intelijen Buta dan Tuli

Berikut ini puisi yang dipersembahkan untuk seluruh Insan Intelijen Indonesia. Disusun dengan perasaan sedih, malu, dan berdosa kepada seluruh rakyat Indonesia. Dengan tetesan air mata dan keprihatinan yang mendalam, kami berharap seluruh Insan Intelijen Indonesia menyadari kelemahan dan kerusakan-kerusakan dirinya.


Intelijen Buta dan Tuli

Silahkan ambil semua yang dibutuhkan
Dalam keserakahan dan kebohongan 
Dalam pencitraan dan penyesatan
Dengan hati terluka kami berdo'a
Semoga mata dan telinga tetap sehat
Demi kesejahteraan dan keselamatan
Rakyat Indonesia

Katakan, kami bertahan dalam kegilaan
Menutupi kebenaran dan keadilan
Kami bersalah dan dipersalahkan
Kehilangan kebanggaan dan kepercayaan
Menyaksikan insan intelijen lupa jati dirinya
Lupa tangisan dan harapan
Rakyat Indonesia

Berharap, kami berharap berubah
Tahun demi tahun tiada yang peduli
Semua hanya berpura-pura
Demi uang operasi abal-abal
Melacurkan diri kepada selain tugas
Melarikan diri dari amanat
Rakyat Indonesia
 
Kemunduran kualitas dikompensasi dengan kuantitas
Intel gendut sulit berlari cepat dalam kebodohan
Hanya menikmati uang operasi melupakan tugas
Menjadi budak program kerja demi uang
Idealisme menguap dalam kegelapan
Mengkhianat janji dan sumpah kepada
Rakyat Indonesia 

Ma'af, ma'afkanlah kami insan yang lemah
Telah membutakan diri dan menutup telinga
Tidak berdaya hadapi komando pembusukan
Kami bertahan karena ingat penderitaan rakyat
Tetap bekerja walau sebagai bahan tertawaan
Jatuh terperosok dikuasai asing, politik, dan uang
Maafkan kami....Rakyat Indonesia

10 April 2016
Atas nama seluruh Insan Intelijen yang terluka
Senopati Wirang

Read More »
01.19 | 0 komentar

Rabu, 06 April 2016

Kepada Seluruh Umat Islam Indonesia

Artikel ini bukan artikel intelijen dalam konteks NKRI, melainkan suatu perspektif pribadi yang dijiwai oleh semangat berbuat baik sebagaimana diajarkan dalam Islam.
Mohon maaf sebelumnya apabila analisa dalam artikel Skenario Penghancuran Islam telah menyinggung sebagian umat Islam Indonesia karena dapat diterjemahkan sebagai tuduhan "kebodohan" kepada saudara-saudara kita yang berjihad ke Irak dan Suriah dan terlibat dalam perang proxy yang kompleks yang melibatkan AS-Israel-Barat-Rusia-Iran-Arab Saudi-Turki. Benar bahwa artikel tersebut menggunakan teknik framing dari data-data sejarah konflik yang terjadi terkait dunia Islam, khususnya di Timur Tengah. Benar bahwa Blog I-I tidak mengambil rujukan kepada Al Quran dan Hadits karena hal itu bukan keahlian komunitas Blog I-I. Mohon agar dimaklumi bahwa artikel tersebut tidak secara eksklusif membela Islam. Tujuan artikel tersebut adalah dalam rangka pembelajaran dengan menyajikan artikel yang bersifat netral dalam kerangka Negara Republik Indonesia.


Kami sangat paham dengan semangat jihad dalam arti berperang yang dikobarkan sebagian umat Islam Indonesia yang sangat peduli dengan perkembangan dunia Islam baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bahwa kematian adalah hal yang pasti terjadi dan menjemput kematian secara mulia dengan jihad adalah inti ajaran jihad yang tidak dapat dibantah oleh setiap orang yang mengaku Muslim. Persoalannya bukan pada konsep jihad perang atau qital yang merupakan jihad tertinggi dalam Islam, melainkan kepada kehati-hatian dalam menyikapi strategi dan tipu daya yang meyebabkan umat Islam terpuruk dalam ketidakberdayaan. 

Secara bathiniah dan keyakinan beragama, bahwa apapun yang terjadi di dunia baik dan buruk adalah atas Kehendak Allah SWT merupakan keimanan. Kami tidak akan membantah anggapan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar konflik di dunia Islam adalah ketetapan Allah SWT dan bukan karena "kehebatan" skenario Barat (AS, Israel dan sekutunya) atau pengaruh Rusia, Iran dan lain-lain dalam menciptakan kondisi tersebut. Apa yang kami gambarkan dalam artikel Skenario Penghancuran Islam adalah suatu dinamika, proses, dan sebab akibat yang kemudian dapat kita terjemahkan sesuai dengan kemampuan akal kita masing-masing. Kami belum tentu benar bahkan boleh jadi jauh dari hakikat kebenaran. Peristiwa-peristiwa di dunia dapat selalu dikaitkan dengan ajaran agama, dapat diproses untuk dipahami secara saintifik (akademis), dapat didekati dengan pemahaman akal yang terbatas, dapat diserap dengan common sense, atau bahkan dapat tidak dipedulikan, kembali kepada masing-masing individu. Salah satu hal terpenting yang umumnya dilakukan manusia adalah berusaha untuk memahami persitiwa-peristiwa dunia tersebut untuk kemudian menjadi bahan pertimbangan dalam menyikapinya. 

Kehinaan dan pelecehan yang terjadi terhadap umat Islam di dunia maupun di Indonesia salah satunya adalah karena meninggalkan jihad dan kehilangan semangat/spirit dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam. Keyakinan kepada ajaran Islam tergerus oleh konsep-konsep yang dibangun dari pemahaman akal manusia tentang begaimana manusia seharusnya berperilaku, berkarya, bernegara, behubungan sosial, dst. Ketika mantan Presiden PKS, Tifatul Sembiring mengutip hadits riwayat Ahmad tentang homoseksualitas, maka hal itu memicu "kemarahan" pembela LGBT yang menyebabkan tuduhan hate speech. Hakikat di atas empirisme, manusia tidak akan pernah pernah mampu mencapai penjelasan total tentang hakikat yang tersimpan dibalik hukuman yang keras terhadap homoseksualitas. Kemanusiaan dan penerimaan manusia terhadap hukum-hukum agama dan hukum-hukum buatan manusia sangat terkait erat dengan kenyamanan sang manusia itu sendiri. Penolakan campur tangan agama dalam urusan sosial, negara, dan peri kehidupan manusia berpusat pada keinginan untuk "bebas", bebas dari aturan agama. Namun karena manusia perlu diatur, maka manusia kemudian membuat aturan-aturan baru termasuk yang dianggap bertentangan dengan agama.

Ketika kasus tewasnya Siyono dalam status tahanan  Densus 88 mengemuka, berbagai reaksi bermunculan yang intinya mempertanyakan cara-cara perlakuan Densus 88 terhadap tahanannya. Mengapa terjadi kondisi tubuh Siyono dengan pendarahan kepala belakang, luka lebam di wajah, tangan, dada, dan patah tulang rusuk? Dari sisi polisi bahkan semakin keras dengan menyatakan bahwa ada kelompok pro teroris yang mendukung Siyono. Kapolri pun menyatakan bahwa Siyono adalah Panglima Neo Jamaah Islamiyah, sebuah pernyataan prematur yang hanya berdasarkan pada dugaan keterkaitan dengan Jamaah Islamiyah yang telah porak poranda. Peranan ormas Muhammadiyah patut dihargai karena mampu menengahi perbedaan pendapat ini dengan kepala dingin dan efektif berpegangan pada fakta-fakta upaya pengungkapan kebenaran dan penegakkan keadilan.

Orang Indonesia terdiri dari berbagai latar belakang etnis dan agama dan keyakinan. Kegagalan mayoritas umat Islam untuk bersatu dalam gerakan politik menyebabkan Indonesia tidak menjadi negara Islam sebagaimana dicita-citakan oleh sebagian umat Muslim yang dihatinya hanya terpatri oleh keIslaman. Kompromi Muslim moderat yang mengadopsi sebagian pemikiran Barat yang liberal menilai bahwa jalan tengah demokrasi masih dapat diterima sepanjang umat Islam tidak lagi ditindas. Agak aneh mengapa mayoritas tertindas bukan? Karena mayoritas umat Islam meninggalkan jihad dan menjadi pengecut-pengecut yang bersembunyi dibalik kehinaan atau karena mayoritas umat Islam Indonesia hanya berhenti pada level label semata dan bukan menghujam di dalam hati mewujud dalam perbuatan, perilaku dan amalannya. Berapa persen umat Islam Indonesia yang mengerti bacaan Al Quran? berapa persen yang memahami bahasa Arab? mengapa bahasa Arab tidak diajarkan di sekolah-sekolah umum sejak pendidikan dasar? Dimana perjuangan partai-partai politik dan ormas Islam yang mengaku membela Islam? 

Belajar bahasa Arab bukan suatu upaya Arabisasi, melainkan meningkatkan daya pemahaman terhadap sumber ajaran agama Islam sekaligus meningkatkan daya tangkal terhadap ajaran yang menyimpang dari Timur Tengah. Perhatikan derasnya pengaruh bahasa Inggris dan bahasa Mandarin di kota-kota besar di Indonesia yang bahkan meningkatkan daya tawar untuk bekerja di perusahaan-perusahaan yang menjanjikan gaji besar. Namun bila anda fasih berbahasa Arab, maka peluangnya mungkin mengajar, dan menjadi guide haji dan umroh, sementara dari aspek praktis berupa peningkatan kualitas keIslaman kurang menonjol.

Benar bahwa kami memperkirakan kehancuran umat Islam karena ulah umatnya sendiri yang meninggalkan jihad baik dalam artian perang sampai pada arti yang paling halus memerangi nafsu. Jangan disalah tafsirkan pandangan kami ini sebagai pembelaan terhadap terorisme atau dukungan terhadap radikalisme agama. Pada prinsipnya jihad adalah istilah yang baik dan mulia yang mengalami pelecehan makna karena ada pihak-pihak yang ingin mencabut semangat jihad dari seluruh dada umat Islam. Atau minimal setiap Muslim akan malu atau takut menyebut kata jihad karena khawatir dikaitkan dengan terorisme.


Demikian sedikit penjelasan dalam pandangan pribadi kami.
Ttd.
Jaringan Blog I-I Timur Tengah dan Afrika.


Penjelasan Senopati Wirang:

Perlu sahabat-sahabat Blog I-I ketahui bahwa Blog I-I tidak menutup diri dari kontribusi seluruh anak bangsa Indonesia untuk menyampaikan gagasan dan pandangannya tentang negara tercinta Indonesia. Jaringan Blog I-I di Timur Tengah adalah asset yang sangat berharga dan telah berkontribusi banyak dalam memberikan pemahaman tentang situasi di Timur Tengah dan dunia Islam. Jadi kepada jaringan atau siapapun anda bagian dari bangsa Indonesia yang ingin menyampaikan gagasan melalui Blog I-I, khususnya terkait pembelajaran tentang situasi strategis, taktis, terkait keamanan dan dunia intelijen, media Blog I-I terbuka luas.

Salam Intelijen
SW






Read More »
07.58 | 0 komentar

Minggu, 20 Maret 2016

Unit Khusus Paranormal BAKIN

Seperti juga Stargate Project DIA (AS) dan Troop 10003 KGB (Uni Soviet) pada era Perang Dingin, BAKIN memiliki unit khusus yang memonitor dinamika dunia yang sulit diterima akal manusia, baik fenomena aneh alam semesta maupun perilaku paranormal dan penghayatan keyakinan di masyarakat tercatat dengan baik dalam dokumen BAKIN. Unit ini sangat rahasia dan hanya dikenal dengan kode sandi: kamar xxx (maaf tidak dapat disebutkan disini),  hanya sangat sedikit pimpinan BAKIN yang mengetahui unit khusus ini, bila anda kenal dengan pejabat BIN saat ini, hampir dapat saya pastikan bahwa mereka tidak tahu. Kehebatan unit khusus ini lebih dari sekedar kemampuan individu yang berada di dalamnya, melainkan juga mengendalikan tokoh-tokoh paranormal dan jawara dunia kebathinan dari Aceh hingga Papua.


Tidaklah mengherankan apabila berbagai fenomena penyimpangan urusan keyakinan dan penghayatan kepercayaan sangat mudah terbongkar oleh BAKIN, bahkan beberapa yang terkenal adalah bikinan BAKIN. Beberapa kasus yang belakangan ini sering mengemuka dengan fenomena aliran Gafatar, Nabi-Nabi palsu, penipuan oleh Ustadz selebriti, penipuan praktek-praktek perdukunan relatif jarang terjadi di era Orde Baru.

Ambil saja contoh aliran LDII yang sejak tahun 1970-an telah menjadi menjadi proyek intelijen dengan memanfaatkan kebodohan umat Islam yang kurang mendalami ilmu agama. Dengan bekal kemapuan ilmu agama, kepemimpinan, dan kharisma Nurhasan Ubaidah Lubis yang mengalami kesulitan telah dipantau BAKIN dan dibina untuk kepentingan politik nasional. Dari Nurhasan tersebutlah kemudian estafet kepemimpinan LDII dapat dikendalikan BAKIN pada era 1980an hingga akhir 1990an. Kepentingan tersebut adalah untuk menciptakan loyalis-loyalis kepada Pemerintah yang sepenuhnya dibawah kendali pimpinannya. Umat Islam Indonesia meski patuh pada ulama, namun juga banyak yang menolak untuk taqlid buta kepada pimpinan agama. Khususnya mereka yang sungguh-sungguh mendalami agama Islam di Timur Tengah tidak dapat dikendalikan Pemerintah. Organisasi agama Islam yang besar seperti NU dan Muhammadiyah tidak 100% dapat dikendalikan dan Pemerintahan Orde baru harus cerdik dan sangat hati-hati. Namun model Islam Jama'ah seperti LDII dapat 100% dikendalikan. Hal sama juga terjadi pada aliran-aliran yang dikenal radikal seperti mantan-mantan Darul Islam dan Negara Islam Indonesia. Semuanya berada dalam genggaman intelijen. Terjadinya sejumlah protes, konflik-konflik terbuka dengan aliran-aliran keyakinan (khususnya Islam) di era Orde Baru lebih disebabkan tidak mulusnya oper kendali dari senior dalam unit khusus BAKIN kepada juniornya, sehingga sejumlah aliran menjadi liar.

Apa yang saat ini masyarakat Indonesia lihat dan percaya memiliki kekuatan-kekuatan magis/ghaib dan lain sebagainya adalah 100% tipu daya untuk mengambil keuntungan material. Sementara pada level yang lebih tinggi adalah penggalangan masyarakat untuk diarahkan pada kepentingan tertentu yang hanya diketahui oleh para pimpinan gerakan tersebut. Polri pernah meniru BAKIN dengan ikut mendukung LDII yang pernah mengambil nama LEMKARI, bahkan sejumlah Jenderal Polisi bukannya melakukan penggalangan, malah ikut-ikutan percaya dengan ajaran Islam Jama'ah.

Bagaimana dengan Islam Liberal dan mereka yang mengikuti langkah perjuangan Ikhwanul Muslimin di Timur Tengah? Deteksi dini terhadap gerakan pengajian yang mengikuti model IM juga telah diinfiltrasi dengan baik oleh orang-orang BAKIN, bahkan ada yang menjadi unsur pimpinan. Namun seiring dengan perubahan politik dan keyakinan bahwa IM ala Indonesia adalah untuk kebaikan bangsa Indonesia, hal itu dibiarkan berkembang pesat sampai sekarang. Sedangkan Islam Liberal tidak terhindarkan karena cikal-bakalnya adalah pemberontakan terhadap dominasi pandangan tradisional atau Wahabi. Mereka yang saat ini menggerakkan Islam Liberal pada dasarnya mengalami kegamangan dalam perdebatan rasional dan tekstual Islam. Hal itu dalah kelanjutan dari pengaruh kekuatan rasio dan kemajuan pengkajian orientalisme di universitas universitas di Barat yang telah masuk ke Timur Tengah dan juga Indonesia, namun sesuai pengkajian intelijen gerakan Islam Liberal tidak akan pernah menjadi gerakan massa yang besar karena landasannya adalah kekuatan akal dan kreatifitas yang individualis.

Sebagian Master Spies dalam kamar xxx yang diantaranya adalah penasihat rahasia mantan Presiden Suharto telah meninggal dunia dan seluruh kendali terhadap dunia paranormal, ghaib dan aliran sesat dalam komando BAKIN telah hilang lenyap. Dinamika sosial, politik, ekonomi di Indonesia hingga saat ini masih diwarnai oleh praktek-praktek penyesatan masyarakat dengan kebohongan-kebohongan paranormal, tidaklah mengherankan apabila seiring dengan keterbukaan dan kebebasan reformasi berkembang pula kerawanan penipuan memanfaatkan kelemahan akal rakyat Indonesia dengan praktek-praktek sesat. Kamar xxx sangat banyak berjasa dalam melindungi rakyat Indonesia dari tipu daya aliran-aliran sesat, namun juga tidak bersih dari dosa-dosa karena membesarkan beberapa aliran sesat untuk kepentingan politik Orde Baru. 

Semoga ada pelajaran yang dapat diambil untuk kebaikan masa depan Indonesia
Salam Intelijen
SW

Read More »
04.33 | 0 komentar

Selasa, 15 Maret 2016

Skenario Penghancuran Islam: Bukan Teori Konspirasi

Artikel berikut ini lebih mengarah kepada analisa dari data-data yang dikumpulkan jaringan Blog I-I sejak isu terorisme "Islam" mengemuka yang ditandai dengan peristiwa 9/11 tahun 2001. Untuk dapat dipahami oleh seluruh bangsa Indonesia khususnya Umat Islam, artikel ini sengaja dikemas tidak dalam bahasa yang berat dengan terminologi ataupun teori-teori sosial. Demikian juga dengan data-data pendukung sengaja menghindari detil informasi maupun referensi khususnya informasi rahasia. Sehingga sahabat Blog I-I yang membaca artikel ini, mohon lebih teliti dan silahkan melakukan riset sebagai cross check, sekiranya analisa Blog I-I kurang tepat.

Dunia sosial politik patut diakui sebagai dunia yang penuh tipu daya. Terlepas apakah tujuan-tujuan politik tersebut ideal, mulia, pragmatis, kepentingan, atau jahat sekalipun, demikianlah adanya dunia sejak manusia berhubungan berkumpul bersosialisasi berorganisasi dan bernegara. Tipu daya disini merupakan suatu siasat atau dalam bahasa yang lebih positif disebut strategi. Untuk memahami suatu strategi, hal yang paling penting untuk segera dilihat adalah tujuan akhirnya. 

Apabila kita melihat ke Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Selatan, Afrika, dan Asia Tenggara dalam konteks terorisme kita akan menemukan sejumlah gerakan atau organisasi yang memperoleh label teroris. Kita akan menemukan puluhan organisasi yang sering disebut-sebut baik oleh Media Massa maupun oleh Negara sebagai organisasi teroris. Dahulu Al Qaeda (AQ) dianggap sebagai pusat dan menjadi inspirasi bagi sebagian besar kelompok teroris internasional dan tercipta sejumlah kelompok afiliasi di berbagai negara termasuk di Indonesia. Paska kematian pemimpin AQ, Osama bin Laden, pengaruh AQ meredup dan tiba-tiba kelompok yang menamakan dirinya Islamic State (IS) di wilayah Irak dan Suriah mengemuka dan menjadi inspirasi bagi berbagai kelompok di dunia termasuk di Indonesia. Mengapa AQ dan IS begitu berpengaruh kepada pergerakan di dunia Islam yang bersemangat dalam menegakkan negara Islam? Selain pengaruh propaganda dan jaringan internasional, terjadi kesama ide, ideologi, dan metode mencapai tujuan. Sebagaimana hukum alam, yang kuat dapat mempengaruhi yang lemah. Dengan melihat kekuatan AQ dan IS, kelompok-kelompok Islam garis keras yang lemah di berbagai negara seperti mendapatkan energi baru dan panutan dalam berjuang. 

Setelah memahami kuatnya daya tarik dan pengaruh dari AQ dan IS, tentunya kita perlu memahami konteks mengapa kedua organisasi tersebut dapat lahir dan tumbuh berkembang dalam skala melewati batas negara. Dari sisi ideologi baik AQ maupun IS membawa nama Islam Sunni yang dalam perjalanannya berupaya mempengaruhi dunia Islam Sunni agar mendukung atau berbaiat kepada mereka. Untuk dapat mempengaruhi dunia Islam Sunni, kita dapat memperhatikan bahwa apa-apa yang disampaikan oleh pimpinan AQ dan IS mencakup isu-isu yang cukup luas dari ketidakadilan terhadap umat Islam, kewajiban menegakkan agama Allah SWT, perjuangan jihad, amaliyah lainnya, hingga sikap bermusuhan terhadap orang-orang kafir. Artinya bukan eksklusif tentang bagaimana mati dalam perang suci, Syahid. Pesan yang disampaikan AQ dan IS cukup komprehensif dan membawa nama dan simbol-simbol Islam.

Setelah memahami daya tarik AQ dan IS tersebut, hal selanjutnya yang perlu kita perdalam adalah kepada konteks perjuangan AQ dan IS, apakah sungguh-sungguh demi kemuliaan Islam dan penegakkan Syariah Islam, ataukah kekuasaan politik yang dibatasi oleh wilayah perjuangan. 

Pertama mari kita perhatikan AQ. Meskipun pengaruh AQ setidaknya terdeteksi di sekitar 16 negara di dunia, namun pusatnya berada di Afghanistan-Pakistan yang para pengamat ahli menyebutnya sebagai AQ Core atau AQ Central. Dari pusat AQ tersebutlah sejumlah fatwa dan organisasi serangan teror dikabarkan bersumber, termasuk serangan bom Bali 2002. Konteks perjuangan AQ pada awalnya bukan perjuangan global membela dunia Islam, melainkan berawal dari Sudan (1991-1998) pembentukan jaringan awal Timur Tengah-Afrika Utara dengan target Anti Barat/Amerika. Pada tahun 2001, cikal bakal AQ pimpinan Osama bin Laden bergeser ke Afghanistan dan bergabung dengan perjuangan kelompok Taliban yang memberikan perlindungan. Taliban merupakan kelompok gerakan politik yang besar di Afghanistan dan pernah berkuasa pada tahun 1996-2001 di Afghanistan. Namun kemudian kalah karena serangan AS dan Inggris dan kemudian berubah menjadi kelompok gerilya melawan pemerintah Afghanistan bentukan AS dan Inggris. Konteks perjuangan AQ Core yang bersinergi dengan Taliban dapat dikatakan berada dalam konteks perjuangan menegakkan pemerintahan Taliban yang mengusung Syariat Islam yang sangat ketat. Namun karena AQ Core sejak awal memiliki jaringan internasional, maka tekanan kepada AS dan sekutunya dapat dilakukan di luar wilayah Afghanistan dalam bentuk aksi-aksi serangan teror. Posisi AQ juga bergeser-geser di wilayah Afghanistan dan Pakistan. 

Sekarang kita perhatikan IS yang saat ini disebut-sebut mampu menarik jihadis dari berbagai negara yang mencapai jumlah lebih dari 20000 orang. Pada dasarnya IS merupakan kelanjutan dari AQ di Irak yang banyak dimotori oleh mantan intelijen dan pasukan Irak pro Saddam Hussein yang merupakan kelompok Sunni. Irak paska Saddam Hussein dimulai pada tahun 2003 setelah AS dan sekutunya menggulingkan Pemerintahan Partai Ba'ath pimpinan Saddam Hussein dengan serangan militer. Negara Irak saat ini adalah berdasarkan konstitusi 2005 yang merupakan pengalihan kekuasaan dari pendudukan AS kepada bangsa Irak. Terjadi perpecahan dalam masyarakat Irak dimana sekitar 1/5 penduduk Irak menolak konstitusi, dan diperkirakan khususnya di wilayah dimana saat ini IS berkuasa mayoritas adalah masyarakat Islam Sunni yang menolak konstitusi tersebut, sehingga dapat menjadi dukungan publik kepada IS. Tidaklah mengherankan apabila IS dapat secara efektif berfungsi sebagai "negara", karena selain strukturnya dipegang oleh mereka yang pernah berpengalaman dalam ketatanegaraan, setidaknya ada dukungan dari sebagian populasi di Irak. Perang saudara yang terjadi di Suriah yang memecah belah bangsa Suriah ke dalam kelompok pro dan anti Pemerintah Rejim Assad juga memperluas pengaruh IS karena adanya kesamaan kepentingan yang dipersatukan dengan sikap anti Syiah. Konteks perjuangan IS adalah lokal, namun karena kekuataan nyata berupa pasukan, penduduk, finansial, dan sumber daya lainnya tampak menjanjikan sebagai model negara Islam. Hal inilah yang kemudian diperbesar dalam propaganda internasional melalui berbagai media untuk menarik perhatian umat Islam di seluruh dunia. Dengan menjanjikan sebuah kehidupan yang murni Islami dibawah hukum Islam, umat Islam di berbagai negara yang kurang paham tujuan dari IS merasa dan menganggap IS sebagai perwujudan tercapainya perjuangan mendirikan negara Islam yang benar.

Setelah memahami AQ dan IS secara singkat tersebut, perhatikan dimana letak permainan tipu daya politik yang menyesatkan dan dimana hal itu bergulir di luar kontrol. Menguatnya jihad bangsa Afghanistan pada era 1980-an lahir dari perlawanan melawan komunisme dan pendudukan Uni Soviet, pada masa itu AS berada di belakang perjuangan bangsa Afghanistan melawan Pendudukan Komunis Uni Soviet. Hal itu berbalik ketika AS menyerang Afghanistan paska peristiwa 9/11 yang dituduhkan kepada AQ Core yang berada di Afghanistan. Sebelumnya AS mendesak kepada Pemerintahan Taliban untuk menyerahkan Osama bin Laden, namun ditolak dan akhirnya pada 7 Oktober 2001 AS bersama Inggris menyerang Afghanistan menggulingkan Pemerintahan Taliban dan membentuk Pemerintahan Boneka pimpinan Hamid Karzai. Belakangan sekutu (NATO) juga mendukung pendudukan AS di Afghanistan. Alasan yang sering kita dengar selain untuk menghancurkan AQ dan menggulingkan Taliban adalah apa yang disebut sebagai the War on Terror.  

Hal yang agak berbeda terjadi di Irak, dimana penggulingan Saddam Hussein melalui perang dan upaya pembentukan pemerintahan demokratis Irak menjadi salah satu penyebab lahirnya apa yang kita kenal sebagai IS saat ini. Hal itu merupakan sebuah fenomena politik yang biasa dalam situasi konflik, paska konflik, dan konflik berkelanjutan, dimana tidak tercapainya konsensus nasional dalam referendum bangsa Irak menyebabkan perpecahan yang dalam kasus Irak adalah perang saudara. Faksi-faksi politik yang terpolarisasi dalam suku/etnis dan aliran khususnya Sunni-Syiah menyebabkan sulitnya tercapai kesepakatan dalam pembentukan negara Irak yang demokratis. Bentuk Federalisme termasuk penghargaan atas perbedaan etnis, penggunaan bahasa, dan keadilan sepintas tampak ideal, namun perebutan kekuasaan politik adalah sama dimanapun, ketika koridornya rusak atau tidak tersedia, maka pilihannya adalah dengan kekuatan bersenjata. Pilihan kekuatan senjata juga ditempuh oleh Suku Kurdi dukungan AS dan Faksi Syiah dukungan Iran. Hal itu, menyebabkan kegamangan negara-negara Arab pada awal-awal menyikapi IS. Alasannya sederhana yakni IS dapat menjadi penyangga atau pembatas meluasnya pengaruh Iran di Timur Tengah.

Situasi serupa dengan Irak terjadi di Libya dengan penggulingan rezim Muammar Gaddafi oleh AS dan sekutu yang belakangan juga meninggalkan Libya menjadi negara yang porak poranda dalam perang saudara konflik etnis dan konflik aliran Islam, termasuk dengan masuknya pengaruh faham Islamic State yang melihat Libya lokasi yang tepat untuk revolusi negara Islam.

Sementara itu situasi di Yaman dalam perang saudaranya juga tidak terlepas dengan intervensi kekuatan militer melalui operasi perang modern menggunakan drone oleh AS atas nama perang melawan teror. Fakta bahwa di Yaman terdapat kelompok Sunni dan Syiah yang pada masa lalu hidup damai berdampingan, sekarang kita melihat mereka berperang menumpahkan darah dan salah satu pusat persaingan geopolitik Arab Saudi dan Iran. Tentunya semua itu juga diwarnai intervensi AS dan sekutunya.

Pada level yang lebih kecil konflik-konflik yang diwarnai seruan jihad perang juga terjadi di Sinai-Mesir (Ansar Bait al-Maqdis), Pakistan, Dagestan, Tunisia, Afrika Barat (Nigeria, Chad, Niger), Asia Tenggara khususnya Filipina dan Indonesia.

Persitiwa-peristiwa tersebut adalah fakta-fakta sejarah yang terjadi sebagi akibat dari kalkulasi strategi dan geopolitik kawasan dengan pemain-pemain besar sebagai berikut:
  • Dalam konflik/perang Afghanistan: Barat (AS dan sekutu) vs Uni Soviet (Russia) dengan proxy Pemerintahan Komunis Partai Demokrasi Rakyat Afghanistan - Mujahidin - Taliban - Negara Islam Transisi Afghanistan - Republik Islam Afghanistan.
  • Dalam konflik/perang Irak: Barat (AS dan sekutu) vs Pemerintah Irak Partai Ba'ath. Dalam proses pembentukan Negara Irak yang demokratis bentukan AS, berkembang perlawanan yang mewujud dalam lahirnya faksi-faksi bersenjata kelompok jihad seperti AQ di Irak, ISIS (Sunni) dan Mahdi Army dll (Syiah). Hal itu kemudian diperburuk oleh perang saudara di Suriah, maka elemen jihad Suriah yang juga diwarnai konflik sektarian Sunni-Syiah sehingga batasan wilayah IS menjadi mencakup sebagian wilayah Suriah yang tidak lagi efektif dikuasai rejim Assad. Pada bagian lain, wilayah-wilayah yang secara efektif dikuasai oleh kelompok etnis seperti Kurdi juga membentuk kekuatan tersendiri yang juga didukung oleh AS sebagai langkah awal menuju pembentukan Negara Kurdi. Karena wilayah konflik berbatasan dengan sejumlah negara besar di kawasan, khususnya Turki maka Turki juga memiliki kepentingan yang sangat besar dalam mempengaruhi perkembangan situasi dalam rangka melindungi kepentingan negara dan rakyat Turki. Sementara sikap Arab Saudi dan kebanyakan negara Islam di Timur Tengah tampak seperti ragu-ragu karena adanya "kesamaan" aliran Sunni, walaupun belakangan Arab Saudi menegaskan akan memerangi ISIS, masih belum tampak langkah nyata. Iran jelas berada di belakang sekitar 66% populasi Irak yang mendorong terciptanya penguasaan secara efektif Pemerintahan di Irak dibawah kendali kelompok Syiah yang jelas-jelas menjadi alasan penolakan demokrasi oleh sebagian kelompok Sunni di Irak.
Dari semua itu, mengapa masih ada Muslim Indonesia yang rela ikhlas terbang ke wilayah ISIS untuk bergabung dan berjuang bersama ISIS. Lebih aneh lagi mereka yang berbaiat kepada ISIS dan berbuat kerusakan di Indonesia dengan aksi-aksi teror yang jelas tidak akan mungkin dapat merubah Indonesia. Hal ini bukan saja sangat menarik untuk kita dalami sebagai bahan kajian umat Islam dalam menyikapi perkembangan di dunia Islam. 

Mengapa Blog I-I begitu berani mengatakan bahwa aksi-aksi teror mereka yang berafiliasi kepada AQ maupun IS tidak akan dapat merubah Indonesia? Hal ini jelas terbaca dalam strategi AQ maupun IS yang berupaya mendorong terjadinya konflik di berbagai belahan dunia Islam dalam rangka meningkatkan posisi tawar-menawar atau setidaknya memecah belah perhatian dunia. Namun yang kurang diperhatikan adalah respon dunia justru bersatu melawan terorisme internasional. Kurang kuatnya konsep perjuangan hampir pasti mematahkan setiap perjuangan dalam perwujudannya. Perjuangan penegakan Negara Islam di Indonesia mencapai level tertinggi pada era kejayaan Masyumi secara politik tahun 1945-1960, dan Darul Islam pada tahun 1949-1962. Kompromi Islam dan Demokrasi yang terbaik dicapai pada era reformasi dengan fenomena PKS, PKB, PAN (1998-sekarang) dan PPP (1973-sekarang) dan mungkin juga Partai Bulan Bintang masih patut disebut. Partai-partai Islam tersebut adalah representasi umat Islam Indonesia yang terbesar, sementara yang berada di luar Partai Politik masih ada sejumlah organisasi Islam yang menaungi umat Islam dan menyalurkan aspirasi dan kepentingan umat Islam. 

Kelompok-kelompok Islam Garis Keras jelas minoritas yang berada dalam utopia Negara Islam yang bahkan bentuk dan konstitusinya belum jelas. Barangkali Hizbut Tahrir pantas disebut sebagai kelompok yang memiliki model negara yang paling jelas dalam upaya mendirikan negara Islam, namun untuk bergerak di luar demokrasi dan berada dalam ruang gerakan semata tidak akan berkembang lebih jauh lagi dan pada akhirnya juga dapat menitipkan aspirasinya kepada Partai Politik Islam yang memiliki akses langsung kepada kebijakan dan langkah-langkah Pemerintah dan Parlemen. 

Tidak terasa malam sudah semakin larut, bersambung.....Insha Allah


Kamis, 17 Maret 2016

Mohon maaf bila latar belakang untuk memahami fenomea AQ, IS dan berbagai seruan berperang atas nama Islam dari kawasan konflik telah membuat bingung pembaca. Namun bersabarlah dan bacalah secara teliti dan hati-hati serta ikuti alur analisa berdasarkan pada fakta-fakta yang ada.

Untuk memahami konteks konflik yang diwarnai seruan/ajakan berjihad oleh AQ dan IS serta berbagai organisasi yang berafiliasi kita harus melihat akar konfliknya secara sungguh-sungguh. Berikut ini akar konfliknya:

AQ berdasarkan pada fakta sejarah pendiri dan tokoh utamanya dapat kita lihat bahwa inti perjuangannya adalah:

  1. Anti Amerika Serikat dengan bukti sasaran serangan teror sejak awal berkumpulnya cikal bakal AQ di Sudan adalah untuk melawan hegemoni AS melalui serangan bersenjata atau bom.
  2. Fatwa-fatwa tentang jihad yang dikeluarkan oleh pimpinan AQ adalah melawan AS, khususnya dari Fatwa Osama bin Laden tahun 1996 yang bertajuk deklarasi perang melawan Penguasaan Dua Tanah Suci oleh AS. Bagi AQ, Kerajaan Arab Saudi pimpinan keluarga Bani Saud berada dibawah kendali AS.
  3. Kemudian Fatwa tahun 1998 yang bertema Jihad Front Dunia Islam melawan Yahudi dan Crusader (orang yang ikut dalam Perang Salib). Peradaban Yahudi-Kristen yang dimaksud disini tidak lain adalah AS. 
  4. Setelah dua fatwa utama tersebut, barulah terdapat sejumlah seruan yang mengatasnamakan Islam baik yang menyerukan untuk bergabung dengan AQ maupun yang menyerukan untuk menyerang musuh (pemerintahan Thagut dibawah pengaruh AS) di wilayah masing-masing.
ISIS berdasarkan pada fakta sejarah pendiri dan tokoh utamanya dapat kita lihat bahwa inti perjuangannya adalah:

  1. Mendirikan negara Islam di wilayah Irak dan Suriah, menguasai dan memperluas teritori dan melaksanakan fungsi sebagai negara. Meskipun secara de facto saat ISIS telah berdiri dan mampu bertahan sebagai sebuah entitas sebagaimana negara, namun eksistensinya di dunia dan dalam hubungan internasional dapat dikatakan tidak diterima. 
  2. Kebijakan yang demonstratif dalam penegakan hukum Islam melalui pemenggalan kepala sebenarnya hal yang biasa sebagaimana hukuman serupa juga dilaksanakan di Arab Saudi. Namun ISIS melangkah lebih jauh dalam bentuk dokumentasi berupa film pendek tentang proses pemberian hukuman kepada mereka yang dianggap melanggar hukum Islam. Selain itu juga terjadi inovasi hukuman seperti pembakaran pilot pesawat tempur Yordania, hukuman dilempar dari gedung tinggi untuk pelaku homoseksual, dan lain sebagainya. Pesan utamanya adalah untuk memberikan rasa gentar kepada siapapun yang mencoba menginfiltrasi wilayah ISIS atau memusuhi ISIS. Dengan demikian inti dari kebijakan yang demonstratif tersebut adalah menyelamatkan rezim (regime survival) melalui penciptaan rasa takut kepada pihak-pihak yang anti ISIS. Fatwa-fatwa pengkafiran atau takfiri juga memiliki tujuan yang serupa dalam memberikan efek takut dengan konsekuensi hukuman yang berat.
  3. Karena eksistensi ISIS selalu berada dalam ancaman dari luar, maka strategi branding yang pernah dikembangkan oleh AQ juga dilakukan oleh ISIS dalam rangka memperluas pengaruh ISIS di dunia internasional. Sehingga tidaklah mengherankan apabila seruan-seruan yang pernah dikeluarkan oleh AQ juga dilakukan oleh ISIS, khususnya tentang jihad atau memerangi musuh yang dekat (di wilayah masing-masing).
  4. Sebagaimana AQ, ISIS juga menargetkan AS dan sekutunya seperti Inggris, Perancis dan negara-negara Eropa lainnya, sehingga dapat dikategorikan juga sebagai Anti Amerika Serikat. Dalam kaitan ini teori konspirasi yang menyatakan bahwa ISIS adalah buatan CIA dan Mossad adalah kebohongan untuk mengaburkan penilaian dunia internasional tentang kegagalan AS membawa proses transisi damai di Irak. ISIS adalah produk sampingan dari kegagalan exit strategy AS dari Irak.

Sekarang mari kita lihat bagaimana wajah Islam dalam dinamika dunia:
  1. Potensi konflik di dalam tubuh dunia Islam sudah tertanam sejak lama, baik atas dasar aliran Sunni - Syiah maupun atas dasar nafsu perebutan kekuasaan politik. Dendam warisan antar kelompok dalam Islam tersebut diwarnai oleh pengaruh suku dan etnis yang bersaing dalam mencapai dominasi atas kelompok lain. Musuh bersama yang dinamakan Yahudi, Kristen dan Kaum Kafir sejak lama memainkan peranan penting dalam persatuan Islam, khususnya di Timur Tengah. Namun seiring perkembangan zaman, musuh bersama Islam tersebut menjadi terlalu kuat untuk dihadapi secara bersenjata, sehingga terjadilah kesepakatan dalam penguasaan wilayah di jazirah Arab, dimana keluarga-keluarga yang paling berpengaruh di tanah Arab kemudian menjadi penguasa-penguasa negara Arab modern atas bantuan peradaban Yahudi-Kristen Barat dengan menghilangkan kekuasaan Khalifah Utsmaniyah di tanah Arab. Khalifah Utsmaniyah pun berakhir pada tahun 1924. 
  2. Model kepatuhan kepada pemimpin Islam yang dipraktekan dalam bentuk bai'at sebagaimana terjadi di AQ dan IS pada dasarnya mengikuti tradisi kepemimpinan di dunia Islam khususnya Timur Tengah yang hampir selalu diwarnai oleh persaingan antar kabilah/suku/etnis dan aliran. Sehingga tanpa adanya bai'at akan selalu khawatir terjadi pemberontakan atau perlawanan. Hal ini merujuk pada potensi konflik sebagaimana poin 1 dimana sangat sulit menciptakan perdamaian dalam semangat saling percaya antar kelompok di dunia Islam di Timur Tengah. Karena Timur Tengah adalah pusat Islam, maka pengaruh tersebut juga tersebar ke seluruh dunia termasuk yang kita rasakan di Indonesia.
  3. Barat, Yahudi, dan Kristen tidak terlalu khawatir dengan ancaman Islam secara politik karena peradaban dunia secara fisik saat ini berpusat di Barat dan mendominasi secara global termasuk di dunia Islam. Namun kemunduran spiritual Barat menjadi tidak terhindarkan karena perjalanan humanisme dan sains yang menyingkirkan agama (Yahudi/Kristen) dari pusat dinamika sosial telah membuat manusia lupa tentang hal yang ghaib (tidak saintifik). Kekosongan spiritual Barat kemudian diisi oleh spiritual kuno yang mewujud kembali dalam bentuk persekutuan persaudaraan rahasia yang melampaui spiritual Kristen dan Yahudi. Spiritual kuno warisan peradaban Mesir Kuno yang oleh banyak pihak dinamakan sebagai kelompok Mata Horus, Freemason, atau Illuminati bersaing dengan kelompok-kelompok spiritual lainnya termasuk yang belakangan seperti Scientology. Pada intinya persaudaraan rahasia modern tersebut adalah mengkombinasikan logika, kekuatan (ilmu pengetahuan, teknologi, uang, jaringan, politik, militer, dll) dengan visi-misi (khayalan, cita-cita, imajinasi, ghaib) dalam menciptakan masa depan dunia yang berada dalam genggaman kelompok tersebut. Berkat kelompok-kelompok persaudaraan rahasia tersebutlah Barat selamat dan dapat terus maju dalam perekonomian, kehidupan sosial - politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain (duniawi), sementara agama Yahudi maupun Kristen masih berperan dalam memberikan arahan moral yang terkoreksi oleh humanisme.
  4. Apa yang sekarang terjadi dengan radikalisme dan terorisme dalam dunia Islam adalah keputusasaan dalam menghadapi dominasi peradaban Barat. Terjadi proses saling serang dan saling menyalahkan sesama penganut Islam dari aliran yang berbeda, lahir kesedihan, kekecewaan, kebencian, dan kemarahan ketika darah tumpah sehingga akal sudah tertutupi dan jalan yang terbuka seolah hanya kekerasan. Do'a-do'a menjadi hampa, Shalat menjadi otomatis kosong dalam ketidakmengertian mengapa dunia jauh dari nilai-nilai Islami. Akibatnya shalatnya mejadi tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Lemah secara fisik dan spiritual, itulah wajah Islam saat ini. Terjadi penyangkalan terhadap realita dunia yang berjalan secara tidak Islami, bahkan pelecehan demi pelecehan lama kelamaan tidak lagi terasa.
Skenario yang saya maksud adalah skenario Iblis, Syaithan dan seluruh pengikutnya untuk menjerumuskan umat Islam ke dalam ilusi perjuangan yang ujungnya tidak jelas. AQ dan ISIS tidak dapat kita hakimi sebagai perwujudan kejahatan Iblis, melainkan merupakan sebuah fakta dan fenomena sosial politik yang muncul dari wilayah konflik dan kebencian kepada dominasi Barat di tanah Islam. Namun ketika anda berbaiat kepada pimpinan Al Qaeda, anda akan merasa menjadi bagian dari perjuangan Islam dalam versi Al Qaeda yang intinya adalah Anti Amerika Serikat. Ketika anda berbaiat kepada ISIS, anda akan merasa menjadi bagian dari perjuangan menegakkan Islam yang sesungguhnya bersifat lokal di Irak dan Suriah dalam konteks konflik politik, etnis, dan aliran. Baik AQ maupun ISIS merupakan cermin cita-cita yang tidak didukung oleh strategi yang matang dalam skala global dan tujuannya juga tidak mewakili kepentingan umat Islam dunia. Bahkan dampaknya justru semakin melemahkan dakwah Islam kepada umat manusia.

Semoga umat Islam Indonesia semakin sadar, cerdas, dan berhati-hati dalam melangkah memperjuangkan agama Islam.


Salam Intelijen
SW

Read More »
11.10 | 0 komentar