Selasa, 15 Maret 2016

Waspada Ancaman Teror

Hari ini 6 Jumadil Akhir 1437 atau 15 Maret 2016 adalah batas akhir perkiraan serangan teror di Indonesia menurut informasi yang dimiliki Blog I-I sebagaimana telah disampaikan pada artikel Awas Ancaman Teror. Berkat kerja keras dan profesionalisme Polisi, BIN, dan TNI sebagian besar potensi serangan teror selama Februari hingga pertengahan Maret 2016 dapat dilumpuhkan dengan baik. Keberhasilan ini tentunya tidak menjadi berita media massa mainstream yang dapat menarik perhatian publik karena nilai jurnalistiknya rendah. Keberhasilan Polisi, BIN, dan TNI dalam melemahkan dan menghancurkan jaringan teror di Indonesia dapat dikatakan cukup baik, namun belum sepenuhnya menjamin hilangnya ancaman teror. Terlalu dini apabila aparat Polisi, BIN, dan TNI berpuas diri. 

Setelah kritik keras Blog I-I seperti dalam artikel Bisnis Terorisme dan apresiasi jaringan Blog I-I kepada aparat keamanan Indonesia dalam artikel Selamat Kepada Apkam, hari ini Polisi, BIN, dan TNI kembali memperlihatkan sukses kecil dalam operasi penumpasan gerombolan Santoso dengan kode Tinombala yang berhasil melumpuhkan/menewaskan 2 tersangka teroris anggota gerombolan Santoso a.k.a Abu Wardah (Mujahidin Indonesia Timur-MIT), seorang diantaranya diduga warga negara asing. Untuk detail nama dan lain-lain, mohon sahabat Blog I-I menunggu keterangan resmi Pemerintah. Sebagaimana disampaikan dalam analisa-analisa Blog I-I sebelumnya, penumpasan gerombolan Santoso memiliki arti strategis yang akan melemahkan kelompok teroris di Indonesia. Penumpasan disini tidak identik dengan pembunuhan, melainkan berbagai upaya dari persuasif agar mereka menyerah hingga jalan terakhir dengan penegakkan hukum dan ketertiban kepada mereka yang melawan dengan senjata. Siapapun yang melakukan aksi bersenjata yang membahayakan masyarakat Indonesia telah melanggar hukum dan aksi saling tembak adalah situasi lapangan yang sulit terhindarkan manakala kelompok bersenjata tidak mau insyaf dan menyerahkan diri.

Kematian dua orang anggota gerombolan Santoso telah mengurangi kekuatan MIT, dan sisa-sisa yang melarikan diri diperkirakan masih mencapai antara 20-30 orang.

Keberhasilan demi keberhasilan Polisi, BIN, dan TNI bukan tanpa reaksi yang dapat diremehkan. Sebagian elemen aliran radikal yang tidak mengerti duduk perkara terorisme telah disusupi oleh agen-agen yang mencoba mempengaruhi opini publik Indonesia dengan kegiatan-kegiatan propaganda dalam bentuk diskusi, aksi protes, penyebaran selebaran, hasutan, sosial media yang intinya menyoroti kebijakan anti terorisme Pemerintah yang dimotori oleh Polisi, BIN, dan TNI. Lebih khusus lagi bidikan aksi-aksi tersebut diarahkan kepada Polisi khususnya Densus 88. Propaganda tuntutan pembubaran Densus 88 bukanlah aksi spontan keprihatinan tanpa skenario, karena merupakan strategi melemahkan kebijakan anti terorisme Indonesia. Penggeraknya sudah cukup jelas yakni komunitas Islam Garis Keras yang menyusup ke dalam kelompok Himpunan Mahasiswa Islam, Lembaga Dakwah Kampus, khususnya yang berpusat di Solo. Meskipun kelompok ini dapat dikatakan sebagai versi intelektual dari para jihadis, mereka memiliki posisi penting dalam menciptakan opini publik yang bertujuan melemahkan Polisi, BIN, dan TNI dalam kegiatan anti terorisme. Dengan mengatasnamakan Islam, seolah-olah Pemerintah Indonesia melalui Polisi, BIN, dan TNI melakukan pelanggaran HAM terhadap umat Muslim. Detail informasi ini juga tentunya sudah diketahui Polisi, BIN, dan TNI. 

Reaksi yang lebih membahayakan adalah aksi balas dendam berupa serangan teror dengan kekerasan berupa bom atau serangan senjata. Meskipun kekuatan kelompok teroris di Indonesia semakin lemah, namun posisi yang semakin terpojok dapat mendorong terjadinya aksi nekat, terlebih dalam beberapa minggu terakhir ini terdeteksi adanya peningkatan upaya-upaya mewujudkan aksi teror tersebut. Merujuk kepada informasi dalam artikel ini,  Blog I-I menghimbau Pemerintah dalam hal ini Polisi, BIN, dan TNI untuk melanjutkan operasi-operasi anti terorisme dalam skala ancaman yang tinggi. Pemerintah tidak boleh lengah dan terlena dengan keberhasilan-keberhasilan yang belakangan ini dicapai dengan cukup baik. Sebaliknya kewaspadaan harus semakin tinggi, karena tingkat ketegangan justru agak meningkat di kalangan teroris. 

Selain operasi-operasi penumpasan kelompok teroris yang tidak mau insyaf, Pemerintah harus melakukan engagement atau pendekatan persuasif kepada para intelektual jihadis yang aktif di dunia propaganda. Meskipun sebagian media sosial mereka sudah dilumpuhkan, namun hal itu tidak mengurangi aktifitas dakwah kekerasan mereka. Sebagian memelihara komunikasi rahasia dalam group, sebagian lebih memilih pertemuan dengan cover pengajian, dan sebagian terang-terangan aktif dalam menuntut pembubaran Densus 88. 

Berdasarkan pada pemantauan situasi, kondisi dan kecenderungan dalam kelompok teroris, mohon kiranya kewaspadaan terhadap kemungkinan serangan teror tetap dijaga. 

Salam Intelijen
SW

Read More »
08.03 | 0 komentar

Kamis, 25 Februari 2016

AWAS ANCAMAN TEROR: Bendera Hitam Nusantara

Blog I-I menerima informasi tentang peningkatan kegiatan sel kelompok teroris yang menamakan dirinya Bendera Hitam Nusantara aka Katibah Nusantara aka Ad Daulatul Islamiyah Melayu (cabang Malaysia) yang berada di Indonesia dan Malaysia. Hal ini dapat menjadi peringatan akan terjadinya serangan teror yang merupakan kelanjutan dari serangan Teror Thamrin pada Januari 2016 dan kegagalan serangan teror Tahun Baru Imlek dan Valentine 2016.

Sebelumnya Blog I-I telah menyampaikan apresiasi kepada Polri, BIN, TNI, dan BNPT atas kerja kerasnya mencegah sejumlah rencana teror pada bulan Februari ini, tetapi meskipun puluhan tersangka telah ditangkap dan sejumlah aktifitas dapat dideteksi, ternyata masih terdapat beberapa sel rahasia yang belum terdeteksi sepenuhnya.

Waktu serangan diperkirakan antara tanggal 16 Jumadil Awal 1437 s/d 6 Jumadil Akhir 1437

Perkiraan lokasi serangan di Indonesia adalah sebagai berikut:

Jakarta, Bali, Surabaya, Poso, Makassar, dan Solo. Lokasi persisnya sulit untuk dipastikan, namun semua tempat keramaian yang menjadi simbol AS/Barat, tempat maksiat, simbol/pendukung LGBT, Gereja, Kedutaan Besar, Mall/tempat perbelanjaan modern dan lokasi dimana terdapat patung-patung besar perlu mendapatkan pengamanan ekstra guna deteksi dini dan cegah dini. 

Lokasi serangan di Malaysia menjadi urusan aparat keamanan Malaysia, namun besar kemungkinan di Kuala Lumpur atau Putrajaya.

Demikian peringatan singkat ini, semoga Polri, BIN, TNI, dan BNPT dapat terus meningkatkan kewaspadaan mencegah rencana teror sebagaimana sukses besar mengamankan Tahun Baru Imlek dan saat Valentine. 

Salam Kewaspadaan Intelijen
SW

Read More »
03.44 | 0 komentar

Sabtu, 20 Februari 2016

Selamat kepada Segenap Aparatur Keamanan RI

Walaupun kita masih di bulan Februari dan ancaman terorisme masih mengintai, izinkan Blog I-I menyampaikan selamat kepada Polri, BIN, BNPT, dan TNI yang saat ini semakin kompak bahu-membahu mengatasi ancaman terorisme. Seluruh saran Blog I-I telah diperhatikan pemerintah, khususnya dalam mencegah terjadinya serangan teror susulan pada bulan Februari 2016 ini dan menumpas gerombolan Santoso yang mengatasnamakan agama untuk aksi kekerasan. Bahkan setidaknya Pemerintah melalui Menkopolhukam dapat menjelaskan bahwa untuk menumpas gerombolan Santoso bukanlah hal yang mudah.

Apapun penjelasan Pemerintah dalam kegiatan counter terorisme dan counter radikalisme, langkah-langkah yang lebih jelas dapat kita saksikan dengan sejumlah penangkapan tersangka dan pencegahan serangan bom yang tentunya tidak menjadi berita yang heboh di media masa maupun media sosial. Prinsip kerja aparat keamanan adalah bahwa siap untuk dicaci bila gagal mencegah serangan teror, namun tidak mengharap pujian manakala negara aman tentram dan rencana serangan teror berhasil dicegah. Ucapan selamat ini bukan membuat Polri, BIN, BNPT, dan TNI terlena, tetapi diharapkan ke depan semakin solid dalam kerjasama. Dengan adanya rancangan revisi UU Anti Terorisme, langkah yang lebih tegas diharapkan dapat ditempuh dalam rangka meningkatkan upaya preventif yang lebih efektif.

Kekuatan nyata ISIS yang sebenarnya mudah dihancurkan baik oleh koalisi Barat maupun koalisi Syria, Iran, dan Rusia tampak masih seperti misteri dalam hal waktu kapan akan dihancurkan. Saat ini terjadi "kenyamanan" dalam proxy konflik geopolitik negara besar di kawasan Timur Tengah yang menyebabkan operasi militer "menghancurkan" ISIS menjadi pilihan terakhir. Sementara dampak ekspor ideologi kekerasan ISIS merupakan sumber ancaman bagi Indonesia. 

Pemahaman konflik geopolitik inilah yang seharusnya segera dijelaskan kepada masyarakat Indonesia agar tidak tertipu dengan seruan jihad kosong membela sesuatu yang tidak jelas dalam konflik di Irak dan Suriah. Kompleksitas konflik yang diwarnai faktor aliran Sunni-Shiah, etnisitas, kepentingan keberlangsungan rejim (regime survival), memerlukan kalkulasi yang matang guna mencegah meluasnya konflik menjadi perang terbuka yang disebabkan oleh kecerobohan operasi militer. Misalnya kesengajaan penembakan pesawat Rusia, atau kesengajaan serangan udara Rusia kepada kelompok yang didukung Barat dan Turki. Sejauh ini semua potensi konflik terbuka dari ketegangan konflik masih dapat dikendalikan melalui diplomasi dan semua pihak masih menahan diri dari operasi militer yang lebih besar khususnya dengan pengiriman pasukan darat.

Serangan-serangan udara adalah kegiatan operasi militer yang tidak menyasar kepada penguasaan wilayah selama pasukan darat tidak dikirimkan. Artinya hanya suatu show untuk menunjukkan ada sesuatu yang dilakukan yang mana tujuan strategisnya adalah melemahkan atau mencegah meluasnya penguasaan wilayah oleh kelompok ISIS.

Dalam aspek strategis pemahaman utuh tentang konflik di Timur Tengah terkait ISIS dan pengaruh ideologinya dapat menjadi PR dan konsentrasi utama BIN dan BNPT yang saat ini telah memiliki jaringan kerjasama internasional yang baik dalam strategis penanggulangan ancaman terorisme internasional. Kemudian apabila dapat disusun dalam suatu narasi penjelasan yang sederhana seyogyanya dapat disosialisasikan kepada masyarakat tanpa bermaksud menjadi propaganda anti perjuangan Islam. Artinya duduk perkara dan akar masalah ISIS dalam konteks Irak dan Suriah harus dijelaskan sejelas-jelasnya kepada masyarakat Muslim Indonesia. Terlebih dengan adanya peranan-peranan negara-negara kuat seperti AS, Rusia, Iran, Arab Saudi, Turki, dan Israel yang mana semuanya memiliki kepentingan sendiri-sendiri.

Seruan jihad ISIS baik untuk berperang di Irak dan Suriah maupun untuk "berperang" atau menakut-nakuti (meneror) di negara masing-masing sebenarnya telah kehilangan maknanya manakala tujuannya adalah bukan untuk kemuliaan agama Islam karena adalah kekeliruan metode pencapaian tujuan penegakan Dien Islam. Tidak ada satupun catatan sejarah yang menunjukkan bahwa metode perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan Islam dilakukan dengan jalan teror. Adapun jalan perang ditempuh manakala terjadi perlawanan/permusuhan terhadap Islam.

Baik praktisi counter-terorisme maupun pengamat yang mempelajari kitab-kitab yang menganjurkan jihad yang diterjemahkan oleh Aman Abdurrahman misalnya kitab karya Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisiy dapat segera menemukan bahwa argumentasi Syaikh Al Maqdisiy secara umum cukup meyakinkan karena baik kekuatan logika maupun dasar-dasar rujukan agama khususnya masalah Tauhid dan Keimanan yang digunakan dapat dikatakan tidak menyimpang. Hal ini yang mampu memberikan pesona atau daya tarik yang besar dari argumentasi jihad para pengikut Aman Abdurrahman. Akan percuma apabila counter argumentasi dilakukan hanya berdasarkan pada Islam moderat, Islam Nusantara, atau Rahmat alam semesta karena hal itu dapat dengan mudah dibantah dengan tuduhan kemunafikan atau tidak menjalankan Islam secara utuh atau bahkan kesesatan.

Persoalan yang harus dibongkar bukan pada soal jihadnya karena tidak ada masalah dengan jihad. Persoalan utama yang harus dijelaskan kepada umat Islam Indonesia agar memahami fenomena Al Qaeda maupun ISIS adalah konflik geopolitik yang terjadi di wilayah yang penduduknya mayoritas Muslim dan berusaha bertahan untuk hidup di negeri kelahirannya. Bagi mereka jihad adalah wajib karena bila tidak berjihad maka desa mereka akan dihancurkan. Kemudian apakah berarti seruang menolong sesama Muslim merupakan tipuan? bukan demikian. Seruannya adalah benar untuk menolong sesama Muslim, tetapi yang keliru ketika pertolongan itu diwujudkan dalam pertunjukkan pelaksanaan eksekusi mati dengan cara-cara yang yang menurut ISIS sesuai syariah namun tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Misalnya hukuman membakar pilot Yordania dengan alasan qisas karena pemboman dengan pesawat telah membakar manusia dan rumah-rumah penduduk, kemudian hukuman mati bagi mereka yang mempraktekan homoseksualitas dengan dilempar dari gedung tinggi yang dimisalkan dengan rajam yang lebih efektif. Pelaksanaan hukuman tersebut berdasarkan tafsir ulama ISIS yang sebenarnya dapat dikatakan mengada-adakan sesuatu yang baru dengan mengatasnamakan agama.

Serangan ideologi yang juga cukup serius dan logis adalah sorotan terhadap "agama syrik demokrasi" (الديمقراطية دين) karya Al Maqdisiy dimana tuduhan menuhankan demokrasi secara sederhana dapat dipahami. Upaya meluruskan tuduhan ini tidak akan efektif apabila counter-argumentasinya semata-mata menyalahkan cara pandang Islam terhadap demokrasi. Sejarah pertentangan agama dan demokrasi telah terjadi di dunia Kristen Barat dimana pengaruh gereja akhirnya secara nyata tergerus oleh pemisahan gereja dan negara dan sekulerisme menjadi pilihan sebagian terbesar negara-negara modern saat ini. Sekali lagi konteks perlawanan Al Maqdisiy adalah kepada fakta bahwa pemerintah negara-negara di Timur Tengah adalah tidak demokratis, dikuasai oleh elit keluarga, dan berdasarkan pada nasab keturunan. Kemudian demokrasi dipropagandakan oleh Barat ke Timur Tengah yang kemudian memuncak dan marak dengan apa yang disebut Arab Spring. Bagi Al Maqdisiy, karena baik kerajaan maupun demokrasi semuanya tidak Islami. Hal ini kemudian di Indonesia menjadi ispirasi untuk menyebut Pemerintah RI sebagai thagut sebagai dipropagandakan oleh Abu Bakar Ba'asyir dan Aman Abdurrahman.

Tidak terasa, artikel ini menjadi menyimpang dari tujuan menyampaikan ucapan selamat dan menyerukan agar aparat keamanan terus berjuang menegakkan ketertiban dan memberikan rasa aman kepada rakyat Indonesia. Perlu diingat bahwa tugas mulia tersebut tidak akan berhenti selama akar masalah berupa pemahaman konteks sejarah, fakta konflik, dan siapa memainkan peran apa dalam konflik di Timur Tengah dan fenomena terorisme tidak diungkapkan kepada masyarakat Indonesia. Andaipun rakyat Indonesia sudah semakin cerdas dan paham, jangan lupa bahwa masih ada faktor ikatan emosional persaudaraan seagama yang menyebabkan mudahnya terjadi manipulasi maupun sikap murni untuk memperjuangkan apa yang diyakini sebagai kebenaran.

Demikian, terima kasih dan semoga bermanfaat.
SW 

Read More »
15.40 | 0 komentar

Rabu, 27 Januari 2016

Peringatan serangan teror minggu pertama dan kedua Februari 2016

Belakangan ini beredar informasi kewaspadaan serangan teror pada bulan Februari 2016. Karena Blog I-I adalah yang pertama kali menyampaikan kepada publik tentang rencana serangan teror pada bulan Februari 2016 (baca Bom Thamrin pada bagian update peringatan target) , maka ada tanggung jawab moral untuk meluruskan dan mengklarifikasi informasi-informasi liar yang berkembang di masyarakat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait ancaman serangan teror tersebut adalah sebagai berikut:

Bahwa rencana serangan teror pada bulan Februari 2016 adalah terkait erat dengan "sukses" serangan Bom Thamrin, dimana serangan Bom Thamrin yang meskipun kualitas serangannya rendah dalam hal daya ledak bom adalah uji coba dengan perencanaan yang singkat untuk melihat kesigapan dari aparat keamanan khususnya polisi yang juga menjadi sasaran utama. Pada masa lalu dendam dan kemarahan kelompok teroris diarahkan kepada intelijen dan militer, namun karena kontrol intelijen dan militer sangat baik maka kelompok teroris benar-benar terpojok. Pada saat ini, Polisi mencoba untuk melakukan hal yang sama, namun kendalinya kurang baik sehingga banyak persoalan seperti agen-agen polisi yang liar dan menjadi double agen yang menikam dari belakang. Artinya informasi yang diperoleh polisi dari agen-agen yang ditanam ke dalam organisasi intelijen semakin hari semakin kurang valid. Situasi yang sama misalnya juga terjadi dalam penanganan ancaman terorisme, itulah sebabnya Blog I-I tidak bosan-bosannya menghimbau untuk penghentian segala bentuk petualangan operasi yang hanya bertujuan memperoleh keuntungan baik berupa dana operasi, popularitas, maupun kenaikan pangkat istimewa (baca Bisnis Terorisme).

Alhamdulillah, puji Tuhan YME saran Blog I-I didengar dan dilaksanakan oleh Pemerintahan Jokowi-JK dengan rencana revisi UU Terorisme yang mana inti saran Blog I-I adalah untuk memastikan terjadinya sinergi seluruh aparat keamanan (Polisis, BIN, TNI, BNPT, Kejaksaan, dll) untuk mengatasi masalah ancaman terorisme secara terpadu (baca: Jokowi: jangan ada egosentrisme). Walaupun dalam proses penyusunan revisi UU Terorisme tersebut sudah kembali tercium adanya ego sektoral yang kemungkinan akan kembali mementahkan saran Blog I-I tersebut. Semoga sebelum diajukan kepada DPR-RI, rancangan revisi UU Terorisme atau apapun nanti bentuknya tidak melenceng lagi.

Tentang ancaman pada bulan Februari 2016, jelas bahwa kewaspadaan aparat keamanan dan masyarakat diharapkan tetap tinggi, tanpa harus ketakutan karena potensinya memang ada, namun tentang sasaran dan waktu persisnya terus mengikuti perkembangan. Sebagaimana disebutkan dalam artikel  Bom Thamrin, "Bila jaringan Bom Sarinah tidak segera terungkap dalam 1 Minggu, serangan susulan akan dilakukan pada Februari 2016 berdekatan dengan momentum Valentine atau Tahun Baru China dengan waktu dapat bergeser sesuai kondisi". Bahwa polisi, BIN, dan TNI bekerja lumayan baik dalam mengungkapkan jaringan Bom Thamrin yang diikuti dengan sejumlah penangkapan dalam waktu yang relatif singkat, maka potensi ancaman pada bulan Februari 2016 dapat dikatakan menurun, namun belum hilang sepenuhnya. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, tidak ada salahnya apabila masyarakat tetap menghindari keramaian pada acara-acara non-Islami yang terjadi selama bulan Februari 2016. Ingat bahwa bom kecil sekalipun apabila meledak dalam suatu peringatan besar yang banyak dihadiri kerumunan manusia akan berdampak sangat besar. Setidaknya aparat keamanan dapat melakukan pengamanan ekstra dalam penyelenggaraan acara yang menghadirkan banyak orang selama bulan Februari 2016.

Disinilah letak kesulitan pencegahan serangan teror untuk diketahui masyarakat luas bahwa betapapun gigihnya aparat keamanan bekerja, bila terjadi ledakan kecil sekalipun maka akan dituduh kecolongan. Dukungan seluruh masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan kepada Polisi merupakan faktor yang sangat penting dalam upaya pencegahan serangan teror. Sebagaimana kita sadari bersama bahwa masyarakat tidak semuanya membenci aksi pengecut kelompok teroris, bahkan ada yang simpati dan memberikan dukungan.

Sidang peninjauan kembali (PK) kasus Abu Bakar Baasyir (ABB) yang sedang berlangsung dapat menjadi indikasi waktu serangan teror apabila aparat teliti dan terus mengamati proses PK tersebut. Hal ini didorong sikap taqlid buta pengikut ABB yang rela bunuh diri dalam melakukan serangan teror melawan kodrat Tuhan. Artinya siapapun pengikut setia ABB baik yang sifatnya individual maupun terkoordinasi secara kelompok akan melakukan serangan teror sebagai bentuk balas dendam terhadap apa yang mereka sebut bahwa "Ustadz pemimpin mereka dizalimi oleh Pemerintahan Kafir". Indikasi lain adalah dari seluruh komunikasi Aman Abdurrahman baik yang tersurat maupun tersirat, perhatikan baik-baik.

Harapan Blog I-I adalah bahwa seluruh aparat keamanan terus meningkatkan kewaspadaan dan menggiatkan operasi yang sungguh-sungguh dalam mencegah serangan teror. Keberhasilan pengungkapan jaringan Bom Thamrin hanya prestasi kecil bila dibandingkan dengan pencegahan serangan teror berikutnya. Janganlah cepat puas dan segera ambil langkah-langkah yang tepat dalam pencegahan serangan teror.

Sekian, semoga bermanfaat.
Salam Kewaspadaan, Waskita Selamat!


 

Read More »
23.18 | 0 komentar

Sabtu, 16 Januari 2016

Fitnah / Hoax Polisi, TNI, BIN rekayasa Bom Thamrin

Bersama ini Blog I-I ingin menyampaikan kepada seluruh sahabat Blog I-I bahwa ada pihak-pihak yang menghembuskan kebohongan dalam isu terorisme di Indonesia, termasuk kasus bom Thamrin yg baru terjadi tanggal 14 Januari yang lalu sebagai rekayasa aparat keamanan Indonesia (Polisi, BIN, TNI). Informasi tersebut jelas-jelas fitnah yang keji dan bermaksud jahat melemahkan dukungan rakyat Indonesia kepada aparat keamanan dalam melaksanakan tugas mulia melindungi rakyat dari serangan teroris. Beberapa jaringan Blog I-I bahkan mencium upaya melemparkan fitnah tersebut kepada Blog I-I dengan rujukan artikel Bisnis Terorisme. 

Artikel bisnis terorisme tersebut harus dibaca secara hati-hati sebagai kritik membangun agar Polisi, BIN, dan TNI bersatu padu melakukan operasi menghadapi terorisme yang sudah terlalu lama mengganggu ketentraman rakyat Indonesia. Baru-baru ini Blog I-I juga mendapatkan informasi bahwa operasi terpadu tersebut sudah terselenggara dalam melumpuhkan gerombolan Santoso. Operasi semacam itulah yang seharusnya terus digalakkan lebih besar lagi sehingga gerombolan Santoso dapat ditumpas hingga ke akar-akarnya.

Sekitar 7 tahun Indonesia dapat dikatakan aman dari serangan yang teroris yang besar, dan dengan terjadinya bom Thamrin maka eksistensi teroris kembali terasa dalam denyut kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Hanya dengan mengefektifkan operasi-operasi keamanan aparat keamanan, maka bangsa Indonesia dapat meniadakan ancaman terorisme. Dengan dukungan seluruh rakyat Indonesia yang cinta damai dan cinta tanah air dan kemanusiannlah, maka rasa aman dapat terwujud dengan cepat dan dijaga sebaik-baiknya.

Media sosial dan internet mempercepat tersebarnya suatu informasi termasuk yang benar dan yang bohong, hal ini sangat berbahaya bila berita kebohongan tersebut menciptakan rasa curiga sesama elemen bangsa Indonesia. Kebohongan melalui media sosial termasuk melakukan forward berita bohong tersebut seringkali tidak kita rasakan karen hanya memencet beberapa tombol di handphone atau komputer kita dan tersebarlah kepada ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu atau jutaan pemiliki akun lain. Misalnya sebuah twitter dengan follower yang jutaan, disadari atau tidak berita tweet atau retweet-nya akan diterima oleh seluruh followernya, dan bila berita itu bohong adanya maka yang mampu melakukan filter pribadi mungkin hanya beberapa persen, dan selebihnya melalui retweet atau bahkan mengembangkannya, dan bila berulang-ulang, maka terciptalah citra bohong tentang sesuatu. Sangat berbahaya bukan?

Khusus dalam kasus terorisme dan ancaman keamanan lainnya yang serius, langkah serius juga harus ditempuh oleh aparat keamanan untuk memberikan efek jera bermain-main dengan berita bohong melalui media sosial. 

Akhir kata Blog I-I menghimbau kepada seluruh sahabat Blog I-I untuk berkontribusi positif kepada pembangunan dan penciptaan rasa aman dan damai dalam masyarakat Indonesia.

Salam Intelijen,
SW


Read More »
07.27 | 0 komentar

Rabu, 13 Januari 2016

Bom Sarinah/Bom Thamrin: Peringatan Serius untuk Pemerintah Indonesia!

Sejak peringatan serangan teroris akhir tahun dan awal tahun dalam artikel Laporan Intelijen, Kewaspadaan Serangan ISIS, Rencana Serangan Teror, dan terakhir Bisnis Terorisme, sudah cukup jelas tergambar dan Blog I-I sudah meramalkan akan terjadinya kecolongan seperti yang baru saja terjadi yakni Bom Sarinah bila tidak ada perbaikan dalam sistem nasional penanganan terorisme, maka apalagi yang dapat diharapkan dari analisa Blog I-I?

Mungkin beberapa catatan penting dari peringatan-peringatan Blog I-I yang dapat diingat kembali sbg berikut: 
  1. Target utama tempat keramaian dengan simbol asing/Barat/Amerika. 
  2. Motif balas dendam kepada aparat keamanan, khususnya Polisi. 
  3. Anggaran Intelijen menurun tajam yang berdampak luas kepada efektifitas kerja jaringan agen di kalangan teroris.
  4. Densus 88 dipropagandakan negatif ketika ada "masalah" prosedural polisionil/penegakkan hukum dgn "kekerasan".
  5. Militer tidak segera diturunkan dalam menumpas gerombolan Santoso.
  6. Teknik serangan teror meningkat seiring dengan akses kepada senjata.
  7. Rekrutmen orang-orang baru akan terus terjadi bila yang kelompok yang utama seperti gerombolan Santoso tidak segera ditumpas. 
  8. Pemerintah hanya celometan dan pencitraan belaka dengan wacana pembentukan Dewan Keamanan Nasional yang tidak jadi-jadi. Apabila serius, segera bentuk Dewan Keamanan Nasional tanpa tujuan bagi-bagi jabatan kepada Jenderal pengangguran, tetapi bentuk dalam bentuk koordinasi fungsionil operasi (bukan koordinasi ngobrol dalam rapat) dari seluruh aparat keamanan Polisi, BIN, TNI, Kejaksaan, Imigrasi, Kemendagri, Kemenlu, BNPT, dll yang dianggap perlu dengan tujuan sinkronisasi seluruh operasi keamanan. Serta perlu dibentuk gugus tugas anti teror nasional yang bersifat lintas sektoral khususnya lembaga operasional yakni Polisi, BIN, dan TNI  dengan wewenang penangkapan tetap ditangan polisi. Model Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (KOPKAMTIB) sebenarnya efektif, hanya saja dalam konteks demokrasi perlu pengawasan dari DPR untuk menghindari politisasi dan khusus dalam rangka penanganan ancaman serius seperti terorisme dan separatisme.
Peringatan baru: rekrutmen anggota baru teroris juga memanfaatkan organisasi-organisasi aliran "sesat" yang marak dan banyak melakukan penipuan. Kelompok teroris melakukan penyusupan dengan target merekrut para anggota aliran "sesat". Menurut catatan BAKIN era Orde Baru ketika saya masih aktif, tercatat ada ribuan kelompok aliran yang merupakan sempalan dari keyakinan beragama dan berkepercayaan di Indonesia, diantaranya positif menghalalkan kekerasan. Entahlah BIN era reformasi, lembaga-lembaga khusus dalam era BAKIN dihapuskan dan mungkin catatannya hilang, sehingga monitoring terhadap aliran-aliran di Indonesia menjadi sangat lemah.

Sekian, semoga bermanfaat
SW 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Update Catatan: Benar bahwa BIN dan Polri sudah tahu tentang adanya tanda-tanda akan ada serangan teror, dan info ini bukan dari Kedutaan Besar Amerika, tetapi jaringan intelijen BIN dan Polri. Tentang catatan kecolongan dari Blog I-I, bukan suatu tuduhan melainkan fakta telah terjadi ledakan dan serangan bersenjata yang memakan korban jiwa. Seperti juga kejadian Bom Paris tahun lalu dan berbagai serangan teror di dunia, ketika telah terjadi suatu serangan teror maka yang harus dilakukan adalah pengungkapan, pengejaran, dan penangkapan. Masalah besar aparat keamanan Indonesia adalah tidak bersatu padu dalam operasi penumpasan gerombolan teroris! Hentikan jalan sendiri-sendiri, satukan unit-unit terbaik anti teror dari BIN, Polri dan TNI dalam satu operasi terpadu yang kuat bersama-sama dengan dukungan seluruh rakyat Indonesia yang cinta damai. Kata kunci sementara ini: Tumpas Gerombolan Santoso secepat mungkin!

Update Peringatan: Dalam kerumunan ketika Abu Bakar Baasyir mengajukan peninjauan kembali kasusnya dua hari lalu (12/01/2016), beredar perintah serangan teror. Belum terkonfirmasi atas komando siapa, perhatikan baik-baik bahwa kepemimpinan operasional kelompok teroris di pulau Jawa sudah bermetamorfosa dalam format baru ditambah sejumlah teroris yang baru dibebaskan dan yang pulang dari wilayah Suriah dan Irak. Selamat berjuang BIN, Polri, dan TNI dalam melindungi rakyat Indonesia.

Update peringatan target: Kedutaan Besar Asing, seluruh Lembaga Pendidikan aparat keamanan, Hotel, dan Moda Transportasi. Rencana serangan sepanjang tahun 2016 harus tereksekusi. Kepada sahabat-sahabat Polisi yang bertugas untuk PAM ObVit agar meningkatkan kewaspadaan dan dihimbau untuk waspada dan memodifikasi metode PAM baik dengan pakaian preman, perlengkapan persenjataan, antisipasi serangan, serta memperluas jaringan dengan lingkungan sekitar untuk awasi gerak-gerik mencurigakan di sekitar lokasi ObVit.
Bila jaringan Bom Sarinah tidak segera terungkap dalam 1 Minggu, serangan susulan akan dilakukan pada February 2016 berdekatan dengan momentum Valentine atau Tahun Baru China. Waktu dapat bergeser sesuai kondisi. Semoga Polri, BIN, dan TNI segera melaksanakan operasi besar-besaran untuk mencegah jatuhnya korban berikutnya.

Update tentang dalang pelaku Bom Sarinah:

  • Belakangan beredar dengan sangat deras informasi bahwa Amerika Serikat merupakan dalang teror Sarinah dengan alasan masalah Freeport, divestasi, perpanjangan kontrak, pembangunan smelter dll. Hal ini dihembuskan oleh petualang politik nasional Indonesia sendiri untuk memperkeruh keadaan keamanan nasional Indonesia. Namun untuk lebih adilnya, mari kita awasi bagaimana Pemerintah mengelola masalah Freeport tersebut. Indonesia harus mampu berdiri tegak membela kepentingan hajat hidup rakyat Indonesia, menegakkan peraturan dan tidak didikte oleh Freeport. Apabila Pemerintah dalam hal ini Menteri ESDM dan pihak-pihak terkait khususnya sikap akhir Presiden Jokowi bertekuk lutut dibawah pengaruh Freeport, maka hanya ada satu kata: LAWAN! Diramalkan pada hari ini oleh Blog I-I, Rejim Jokowi akan membayar mahal kerusakan Indonesia Raya dari kasus Freeport!
  • Analisa yang lebih mendekati kebenaran tentang dalang serangan Sarinah adalah bahwa dari pelaku yang sedang dan telah diidentifikasi, terdapat hubungan dengan kelompok lama yang pernah ditangkap, kelompok yang saat ini juga telah bergabung dengan ISIS dan sebagian telah kembali ke Indonesia. Pernyataan Kapolda Tito Karnavian perlu kita perhatikan bersama, khususnya dengan peranan dan kepemimpinan Bachrum Naim. Tentang Khatibah Nusantara fokusnya adalah Indonesia, sekali lagi sangat erat dengan kelompok-kelompok lama di Indonesia dan lemah keterkaitannya dengan kelompok di negara-negara ASEAN lainnya seperti di Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand (selatan). Perlu kami garis bawahi sekali lagi bahwa Khatibah Nusantara fokus di Indonesia.
Selamat bekerja keras kepada Polisi, BIN, dan TNI, bersatu ganyang teroris!

Update Pengungkapan, Pengejaran dan Penangkapan jaringan Teror Bom Sarinah/Bom Thamrin:
Selamat kepada Polri, BIN, dan TNI yang mulai menyatukan langkah melumpuhkan seluruh gerakan teroris di tanah air tercinta Indonesia. Peranan Intelijen Polri dan BIN sangat penting dan terbukti bahwa kekeliruan terbesar Pemerintah RI adalah dalam hal kebijakan mengatasi terorisme. Bahwa penyakit kejiwaan para teroris sulit disembuhkan, namun hanya beberapa tahun (5-10 tahun) sudah dibebaskan, akibatnya rakyat dan aparat keamanan yang harus menderita menjadi korban aksi teror. Sebagaimana disampaikan dalam update sebelumnya bahwa jaringan Bom Thamrin adalah jelmaan jaringan lama dan diperkirakan akan terus bermetamorfosa menjadi ancaman yang sangat membahayakan keselamatan rakyat Indonesia. Langkah-langkah penanganan terorisme yang ditempuh oleh Kapolri, Kepala BIN, KaDensus 88, dan berbagai elemen lainnya sangat baik dan patut kita acungi jempol. Diperkirakan Polisi dan BIN akan mampu mencegah terjadinya serangan teror yang telah direncanakan akan dilakukan sepanjang tahun 2016 ini, semoga kita do'akan kerja keras Polri, BIN, dan TNI akan membuahkan hasil ketentraman dan keselamatan kita dari ancaman teroris.

Terus bekerja keras kepada Polisi, BIN, dan TNI, bersatu ganyang teroris!

Belakangan BNPT sedang menyiapkan revisi UU Terorisme, hal ini harus cepat dan lebih baik dari berbagai sisi, khususnya komunitas Blog I-I menyarankan agar UU Terorisme memberikan landasan yang lebih kuat kepada seluruh unsur yang langsung bersinggungan terorisme (Polisi, BIN, BNPT, dan TNI) untuk dapat bekerja lebih efektif dan tepat sasaran.

Seluruh aparat keamanan bersatu padu/bersinergi ganyang teroris!


Beberapa saran dari sahabat Blog I-I yang patut dipertimbangkan:

  • Burung Hantu menyarankan: perubahan aturan hukum anti terorisme yang lebih keras dan tegas demi kemanusiaan.
  • Satya Dharma menyarankan: operasi gabungan Polri dan TNI meringkus gerombolan Santoso.
  • Makayasa menyarankan: Abu Bakar Baasyir dan Aman Abdurrahman dipastikan tidak pernah meninggalkan penjara dan seluruh komunikasinya diawasi.
  • Tidar Sakti menyarankan: kampanye nasional anti terorisme.
  • Sanyata Wira menyarankan: penyuluhan nasional pengawasan gerakan teroris, aliran sesat, dan ancaman keamanan lingkungan melalui program kelurahan dan RT/RW.
  • Sinar Sewakottama menyarankan: tetap tenang, dan beri waktu aparat keamanan bekerja sebaik mungkin.  
  • Bunglon Hitam menyarankan: aplikasi GO-JEK khusus keamanan dan edukasi kewaspadaan indikasi kejahatan di lingkungan kita.
  • Eka Baladika menyarankan: pengejaran secara rahasia dan hindari banyak bicara kepada wartawan, setelah berhasil baru dipublikasikan. Hal ini karena para teroris juga membaca berita.



Update akan terus menyusul, tingkatkan kewaspadaan anda di lingkungan anda !
Salam Kewaspadaan
SW


Read More »
23.38 | 0 komentar

Kamis, 24 Desember 2015

Bisnis Terorisme

Di hari perayaan Natal serta sebelumnya Maulid Nabi Muhammad SAW, komunitas Blog I-I menyampaikan ucapan selamat merayakan kepada sahabat Blog I-I yang merayakannya. Sungguh sayang karena liburan akhir tahun 2015 dan menjelang tahun baru 2016 ini, bangsa Indonesia dibayang-bayangi oleh ancaman terorisme. Sungguh juga sangat disayangkan bahwa negara tetangga Australia juga menambahkan bobot ancaman tersebut dengan gosip ISIS incar Indonesia. Sebuah gosip tidak bermutu yang telah dipahami dengan baik oleh aparat keamanan Indonesia. Mohon maaf sebelumnya bila suasana liburan ini kurang tepat diisi dengan artikel tentang terorisme ini. Namun karena panggilan hati nurani dan informasi dari beberapa pihak di Kepolisian dan komunitas Intelijen yang berhati tulus, maka terpaksa artikel ini dituliskan.


Sungguh terang benderang bahwa untuk melumpuhkan gerombolan Santoso di hutan di Poso sebenarnya dapat dilakukan dengan cepat melalui pengerahan pasukan TNI bekerjasama dengan Polri. Saat ini konon kabarnya 1300 aparat Polisi yang sedang mengejar sekitar 40 orang pengikut Santoso dan korban di pihak Polri telah berjatuhan. Ada apa sebenarnya? Apakah aparat keamanan Indonesia tidak becus? atauhkan sengaja mengulur-ulur waktu demi sokongan dana operasi anti terorisme atau dengan kata lain membisniskan terorisme seperti dalam kasus bisnis separatisme? Pernyataan ini memang bernada tuduhan, namun hakikatnya bukan demikian melainkan sebuah introspeksi agar kejujuran dalam melindungi rakyat dan bangsa Indonesia sungguh-sungguh dilaksanakan. 

Sekali lagi dengan perbandingan Perancis paska Bom Paris, seluruh elemen aparat keamanan Intelijen, Polisi, dan Tentara turun tangan dan segera sejumlah jaringan terungkap, tertangkap, dan terbunuh, dan Paris-pun pulih dan lumayan lebih tenang. Polri telah memburu gerombolan Santoso sejak Oktober 2012 sebagaimana diungkapkan mantan Kepala BNPT Ansyaad Mbai. tiga tahun lebih belum juga beres, entah sudah berapa rupiah uang pajak rakyat dihabiskan untuk operasi-operasi setengah hati tersebut. Operasi menangkap dan membunuh Osama Bin Laden yang dilakukan oleh AS dan sekutunya memang juga terjadi bertahun-tahun, namun hal itu terjadi karena perimeter lokasi persembunyian Osama Bin Laden yang sangat luas. Sementara perimeter lokasi persembunyian Santoso sepertinya jauh lebih sempit dan muncul pertanyaan bagaimana gerombolan Santoso dapat memperoleh dukungan survival logistik selama tiga tahun di hutan? Benar bahwa hutan-hutan di Indonesia kaya dengan flora fauna yang dapat dimakan dan air juga mudah diperoleh, tetapi konyolnya akses kepada listrik minimal untuk charging kamera atau handphone untuk merekam video ancaman Santoso jelas berarti mengakses pedesaan dengan listrik yang terdekat dengan hutan, apakah 1300 apkam tersebut tidak mampu mengendus penyusupan anggota Santoso tersebut? 

Ketika TNI AD melakukan latihan tempur di hutan-hutan di Poso, pada sekitar April 2015 TNI AD menyatakan bahwa gerombolan Santoso sudah tidak berada di hutan-hutan Poso, melainkan diperkirakanbersembunyi di hutan-hutan sekitar kabupaten Parigi Moutong. Delapan bulan kemudian pada bulan Desember ini masih belum ada titik terang penangkapan gerombolan Santoso. Hal ini jelas tidak masuk akal dan operasi Polri sangat tidak efektif. Berbeda dengan kasus pengejaran tersangka teroris Dr. Azhari dan Noordin M. Top dahulu yang dikejar-kejar, dinamika pergerakannya lebih sulit karena berada di tengah-tengah masyarakat. Noordin M. Top misalnya baru setelah sekitar 4 tahun pengejaran intensif (2005-2009) akhirnya terbunuh dalam operasi keamanan Densus 88. Lama sekali ya? Iya karena sulit katanya?

Situasi terorisme saat ini sudah kembali mirip dengan periode 1970-80an dimana kelompok teroris eks Darul Islam seluruhnya telah terpetakan oleh intelijen dan keamanan, namun sengaja dipelihara untuk isu politik atau pengalihan perhatian publik. Apakah apkam saat ini kembali membisniskan terorisme ataukah profesionalismenya sangat rendah sehingga serangan demi serangan dapat terjadi di Indonesia sulit untuk dipastikan. Blog I-I hanya ingin menghimbau agar dana yang sangat besar dibiayai dari pajak rakyat dapat segera memberikan rasa tenang. Tanpa terorisme, apkam tidak akan memperoleh dana yang besar. Mohon maaf sekiranya ada yang tersinggung, tetapi perhatikan bahaya dari mengulur-ulur pemberantasan terorisme dimana bisa jadi serangan bom akan terjadi lagi dan memakan korban yang lebih banyak hanya karena bisnis anggaran terorisme yang menggiurkan.

Peringatan dari Australia, diperkirakan berdasarkan pada asumsi kurang seriusnya apkam Indonesia dalam mengambil langkah-langkah strategis pencegahan jangka panjang sehingga perlu "tekanan" adanya ancaman ISIS yang mengincar Indonesia. Tetapi Australia seperti menggonggong pada pohon yang salah karena apkam khususnya Polisi justru senang mendengar ancaman tersebut, sebagaimana respon Kapolri bahwa Polri siap menghancurkan berbagai aksi teror di tanah air. Silahkan bermain-main dengan api seperti ancaman kepada petinggi Polri, rakyat Indonesia adalah rakyat yang religius, klenik dan penuh dendam, terlebih bila dibohongi terus-menerus. Menggunakan uang pajak untuk penyelenggaraan keamanan negara dari ancaman terorisme sesuai dengan hak negara memonopoli penggunaan senjata untuk keamanan rakyat adalah sah-sah saja. Tetapi sedikit saja tersimpan niatan untuk bermalas-malas dan mengulur-ulur waktu operasi, walaupun tampak bukan sebagai tindak kejahatan korupsi, namun hakikatnya sangat mirip dengan korupsi yakni korupsi kejujuran, kesungguhan dan profesionalisme. Apabila hal ini tidak segera diperbaiki, Blog I-I berani memperkirakan bahwa apkam Indonesia akan kembali kecolongan.

Semoga apa yang Blog I-I tuliskan ini tidak benar adanya.

Salam Intelijen
SW

.

Read More »
18.04 | 0 komentar